Showing posts with label Parodi. Show all posts
Showing posts with label Parodi. Show all posts

Tuesday, 29 March 2016

Bersyukur: Doa Termanjur

Bersyukur : Doa TermanjurTulisan di rubrik ini,Sabtu lalu, yang berjudul “Pagi Sabtu” ada yang mengomentari. Tulisan itu mengenai bagaimana menikmati pagi yang tak tergesa, yang tak bermusuhan dengan “polisi tidur”, atau motor yang ternyata ramah dan bersahabat, dan guguran bunga yang mencintai bumi. Tulisan di rubrik ini sering ditampilkan lagi di beberapa blog. Kali ini ditambahi komentar; jenis tulisan seperti “Pagi” bisa menjadi selingan, selain komentar akan peristiwa yang aktual, atau tokoh yang memviral.

Bersyukur itu Doa Termanjur. Saya juga suka kata-kata ini. Sering saya katakan, juga kepada diri sendiri. Bersyukur adalah mengucap terima kasih, menyampaikan rasa hormat yang dalam, mengakui kebesaran, juga kebenaran di atas kuasa kita. Pada titik yang sama, barang kali saja, ini bentuk yang paling sederhana, paling purba, dari sebuah doa. Dari sebuah permintaan, sebuah keinginan, sebuah harapan. Dan atau lebih dari itu, bersyukur adalah penerimaan setelah melantunkan doa. Dan karenanya bersyukur menjadi kepasrahan, menjadi bentuk berserah yang melegakan. Bersyukur atas hidup ini, apakah yang tengah terjadi, atau kesulitan yang akan menghadang sekaligus juga bersyukur masih diberikan kekuatan juga keberanian melanjutkan. Atau menikmati semua ini dengan rasa syukur. Baik dengan mengucap atau mengungkap atau lebih tepat terungkapkan.

Kadang, atau sering, saya mengeluh akan kejadian yang terjadi. Kenapa ada masalah yang menimpa, padahal bukan akibat langsung yang saya lakukan. Umpama kata, hanya perumpamaan seperti pada kata if I were, ada pohon menimpa motor yang sudah di parkir di tempat yang baik dan disediakan untuk itu. Saya bisa mengomel panjang pendek, bisa menyalahkan pohon dan atau musim hujan, bisa memaki hidup, bisa merasa sial dalam hidup. Tapi sebaliknya bisa merasa bersyukur karena terhindar dari bahaya kejatuhan pohon.

Dalam budaya Jawa jurus bersyukur ini disebutkan sebagai kawruh beja, atau pengetahuan tentang keberuntungan, yang diajarkan Ki Ageng Surya Mentaram. Bahwa sebaiknya – atau sebenarnya , kita sebagai manusia telah diuntungkan. Dan itulah cara menghadapi hidup. Ajaran ini pernah sangat popular pada masanya, sekitar tahun 60an, dan mengalami kritikan karena dianggap terlalu pasif, tidak memberikan gairah. Mungkin tidak harus dipahami sebagai “masih untung kaki kiri yang patah dan bukan dua-duanya”, melainkan sebagai masih ada kaki dan sanggup meneruskan langkah.

Dengan demikian bersyukur sekaligus juga sikap reflektif akan apa yang terjadi di masa lalu, dan bagaimana bisa melalui. Ada kekuatan yang kadang tak sepenuhnya kita pahami yang membimbing sepenuhnya, di samping kemampuan personal dan daya pikir kita. Dengan demikian ada optimistis yang muncul, ada keberanian, ada rasa aman, ada yang sesuatu yang melindungi dan menyertai kita. Apa pun namanya, dan bagaimana pun wujud dan cara kerjanya. Itu yang membuat kita bersyukur, karena selalu dan selalu menemukan alasan nyata untuk bersyukur.

Dan dengan demikian saya merasa lebih tenang menjalani hari-hari, menghadapi cobaan atau godaan, kenakalan dan atau kecemasan . Termasuk hal-hal sepele seperti terjebak dalam kemacetan, seperti terjadi salah paham, seperti ketidak-tahuan, seperti juga hal-hal yang tak sepenuhnya bisa dipahami sebab musababnya.

Bersyukur adalah doa yang terucap, atau terungkap dalam sikap. Baik yang dianjurkan atau diterangkan oleh siapa, atau kita “temukan” dalam rumusan pemahaman kita sendiri. Dan semua itu menjadikan indah, kuat, tegar dan memudahkan tersenyum.

Arswendo Atmowiloto
Koran Jakarta, 26/03/2016
Budayawan 

Sunday, 27 March 2016

R.I.P.

Di hari Minggu yang lalu, saya iseng-iseng mencari arti dari tiga huruf RIP. Requiescat in pace dijelaskan sebagai sebuah ekspresi atau tulisan singkat di batu nisan yang menggambarkan harapan akan sebuah kehidupan yang damai dan abadi untuk mereka yang meninggal.

Damai versi kamus

Saya tidak menyangka bahwa keisengan itu memancing hati nurani menciptakan sebuah "nyanyian" sengau. "RIP itu adalah ucapan dari orang lain untuk elo yang meninggal. Masalahnya sekarang, elo meninggal itu udah ngejalanin hidup yang damai belom? Apakah selama elo ngejalanin hidup, elo tu udah jadi agen perdamaian? Kalau meninggal dengan damai dalam artian tidak menderita atau enggak sakit, itu bukan hal yang dimaksud."

Selama ini, sih, saya merasa telah dan masih menjalani kehidupan yang damai untuk diri sendiri dan orang lain. "Wkwkwkwk.elo memberi damai ke orang lain? Ngaca kali, bro. Bukannya elo dulu musuhnya banyak. Sampai bulan lalu aja, masih ada yang nanyain salah satu karyawan elo, kok bisa-bisanya doi kerja ama elo? Damai apaan? Damai dari mane?"

Saya agak menyesal mengapa saya iseng sekali mencari tahu soal tiga kata itu. Akan tetapi, karena nurani bawel itulah saya bisa menulis artikel ini. Damai atau dalam bahasa Inggris, peace, mengandung makna ketenangan, harmoni, diam, tenteram, keadaan tidak bermusuhan, aman, tidak ada perang, dan rukun.

Nah, penjelasan soal damai versi kamus itu saya gunakan sebagai alat untuk menilai apakah nyanyian sengau yang dilantunkan nurani bawel itu benar adanya. Saya mulai menilai diri saya sendiri. Saya ini orang yang penuh iri hati. Iri hati itu sejujurnya memberi beban.

Saya merasakan itu bertahun lamanya, bahkan sampai sekarang mau saya hilangkan susahnya setengah mati. Setiap kali berusaha agar beban itu lepas, eh, makin lengket, terutama saat melihat ada manusia yang tidak bekerja, tetapi berkatnya mengalir seperti air bah. Sementara saya kerja pontang-panting dari dulu, yaaa... cuma segini-segini saja.

Kalau sudah begitu, saya menjadi kesal dan melakukan aksi protes. Kalau dengan Yang Maha Kuasa melalui doa, kalau sama teman dekat curhat dengan nada tinggi. Hal yang terakhir ini pernah diabadikan saat saya lagi emosi. Saya sampai kaget melihat hasil bidikan itu.

Mata saya menyorotkan amarah, urat leher terlihat tegang, air muka kencang, dan gerakan tangan yang menunjukkan kekesalan yang sangat. Sebuah foto manusia tanpa kedamaian sama sekali. Saya ini kalau dilihat dari luarnya saja lumayan seperti orang yang damai, tetapi bagian dalamnya, ya, seperti foto tadi.

Damai versi saya

Bahkan, sampai sekarang ini, saya masih punya musuh. Dan keputusan bermusuhan karena saya berpikir itu memberi rasa damai dan menjauhkan saya dari sumber petaka. Nah, bisakah Anda membayangkan kalau saya tiba-tiba meninggal dengan hati yang dipenuhi iri hati dan kekesalan yang sangat, serta bermusuhan dan tidak memaafkan?

Bisakah dibayangkan kalau saya meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang salah mengartikan kata damai itu dan meyakinkan bahwa kesalahan itu adalah sebuah kebenaran? Bisakah dibayangkan, saya dikubur, tetapi melencengkan makna kata damai itu berdasarkan versi otak saya sehingga harmonis itu buat saya adalah menciptakan musuh, mengartikan tidak ada perang itu adalah dengan menciptakan perang. Bermusuhan di antara dua manusia itu adalah perang dalam skala yang kecil.

Ironisnya, orang yang melayat atau menuliskan ucapan turut berdukacita di sosial media menggunakan tiga huruf itu yang diartikan bahwa mereka berharap saya akan memiliki hidup setelah kematian yang abadi dan damai. Saya sendiri belum pernah meninggal. Jadi, sungguh saya tidak tahu apakah makna damai versi saya dan versi yang selama ini kita ketahui mendapatkan ganjaran yang berbeda atau sama.

Dan sudah barang tentu Anda setuju kalau saya sendiri tidak mampu menciptakan damai versi kamus, sudah pastinya tak ada damai versi macam itu yang bisa saya tularkan kepada orang lain, bukan? Yang ada hanya damai berdasarkan versi saya. Ya, itu tadi, bermusuhan.

Bukti bahwa saya sudah mengerjakan pekerjaan rumah sebagai penyebar rasa damai adalah dengan memaafkan. Maka, kalaupun saya dimakamkan di pemakaman super mahal, itu hanya memberi gengsi kepada yang menguburkan saya, tidak untuk saya. Apalah gunanya saya terbujur di sebuah pemakaman super mahal dengan hati yang tidak damai dan keliru memaknai kata damai itu?

Sayang tempat pemakamannya. Mahal-mahal, tetapi menguburkan manusia yang seperti bom yang meluluhlantakkan. Dan lebih tak ada gunanya lagi mengukir nisan saya dengan Rest in Peace, la wong sayanya beristirahat dalam kekeliruan memahami perdamaian.

Saya sih belum pernah meninggal, tetapi kok saya yakin ukiran tiga kata itu tak bisa merayu Tuhan membirukan angka merah di rapor kehidupan saya. Waktu dan kesempatan untuk menjadi agen perdamaian sudah diberikan. Selesai, tidak selesai, kumpulkan!

Tiba-tiba terdengar nyanyian lagi yang buat saya lebih dari sengau. "Oke okelah, elo kalau nulis mang paling bisa. Terus kapan mau memaafkan musuhmu itu."

Samuel Mulia
Kompas, 27/03/2016
 Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu

Wednesday, 23 March 2016

Pagi Sabtu

Pagi SabtuSebelum membaca koran ini di hari Sabtu, atau Minggu, adalah saat yang segar, penuh semangat, sekaligus sehat. Sungguh saya menyebutkan sebagai pagi penuh berkah, pagi menerima syukur. Pagi yang menjadi subyek, sehingga saya menyebutkan “Pagi Sabtu” dan bukan “Sabtu Pagi.”

Ada banyak alasan mencintai dan menikmati pagi – di hari Sabtu atau Minggu, selain bahwa itu adalah hari libur dan tak perlu tergesa. Alasan berolah raga masuk di dalamnya. Olah raga yang santai, berjalan kaki,tanpa diingatkan peralatan tempel lengan , atau gawai yang mencatat jumlah langkah, jumlah kalori, detik yang dilalui, atau target yang akan dicapai.

Pagi Ini adalah jalan yang biasa-biasa, di jalan yang bukan selalu track berolah raga. Mungkin jalanan sekitar kompleks atau kampung kita tinggal. Dan membuat lega, aman sekaligus nyaman. Karena yang terasa adalah angin, atau udara yang segar dan membuat longgar paru-paru. Karena mungkin bisa melihat bahwa sebenarnya matahari di saat seperti itu sangat ramah, mirip bulan yang lembut, dan selintas disiapkan menyambut langkah mereka yang berjalan. Mereka tidak selalu yang berpakaian olah raga komplet, melainkan juga ibu-ibu bersama suaminya, atau anak-anak dengan rombongannya, juga— yang menarik, remaja sambil becanda dengan bahasa tubuhnya.

Situasinya sangat menyenangkan. Polisi tidur yang kalau kita lewati dengan kendaraan sebelumnya terasa jaraknya sangat pendek dan “tidurnya nungging”, ternyata mudah dilewati. Sepeda motor yang biasanya dipacu menderu, kini bisa tampak di depan rumah, atau di pinggir jalan sedang dicuci mesra pemiliknya. Benar-benar mesra diusap, dilap, sampai ke sudut-sudut roda yang bulat (sudut yang susah) dengan sikat gigi rombeng. Beda jauh ketika siang nanti sepeda motor itu bersuara bising, menzigzag jalanan padat, berebut sempat. Kontras benda yang sama, motor, membuktikan bahwa pagi sebelum membaca koran adalah pagi yang pantas dinikmati.

Tapi yang benar-benar terasa segar adalah melihat hal-hal yang tak sempat terbayangkan. Mungkin itu berarti bayangan tetangga yang mematikan lampu depan. Mungkin kucing yang masih terkantuk yang menatapmu sayu tapi tak menghindar. Yang pasti sapaan dari sesama pejalan kaki yang kita kenal atau kira-kira kamu tahu siapa. Dengan ucapan lirih selamat pagi, atau saling mengangguk, atau melambai tangan pendek. Tetangga yang siang sedikit nanti tak akan bersapa, karena tergesa ke mana menjadi lebih utama.

Dan yang mentakjubkan masih saja ada. Guguran bunga-bunga di tanah, dengan kondisi mencium tanah, mesra. Warna kuning—biasanya kemboja kuning, yang belum sepenuhnya kering, atau juga merah—kemboja merah, atau bunga yang tak dikenali namanya, yang membentuk mosaik cantik warna warni. Bagai lukisan alam, sehingga untuk sejenak kita rela menahan sejenak sebelum nanti seseorang menyapu.

Semuanya indah adanya. Semua itu menjadi kaya dengan makna ketika dikontraskan dengan beberapa saat kemudian ketika ketergesaan, ketika waktu dihitung secara eksak, ketika keindahan menjadi rusak karenanya.

Pagi Sabtu, atau Minggu, jangan dibiarkan berlalu begitu saja. Jalani langkah-langkahmu, nikmati kesegaran ini sebelum berlalu. Nikmati, juga pahami betapa bayangan tubuhmu bisa meninggiiiii dan panjaaaaaang, atau berubah menempel di kaki. Dan ketika matahari bersinar di belakang tubuhnya, bukan hanya punggung yang menjadi hangat, melainkan kemungkinan kamu bisa melihat pelangi. Dan menurut lirik lagu, ada harta di ujung pelangi.

Harta itu adalah kesegaran, kenyamanan, juga damai yang bisa daparkan dengan percuma. Met pagi Sabtu.
 
Arsweondo Atmowiloto
Koran Jakarta, 19/03/2016
Budayawan 

Tuesday, 22 March 2016

Anjing Pavlov

Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, Dia menciptakan juga ekosistem, yaitu sistem yang mengatur isi dunia atau rumah segala makhluk (ekos = rumah) sehingga segalanya berjalan teratur rapi mengikuti relnya masing-masing.

Diantara ekosistem itu adalah ekosiklus termasuk: tikus takut pada kucing, kucing takut pada anjing, anjing takut pada bosnya, sementara si bos takut sama istrinya, dan si istri sendiri takut pada tikus. Itulah ekosiklus yang oleh Walt Disney diangkat ke film kartun Tom & Jerry. Tetapi, sekarang situasi sudah berubah. Tikus sekarang sudah tidak takut lagi pada kucing.

Pagi-pagi hari, jika saya sedang olahraga jalan kaki keliling kompleks, sering ada tikus nekat keluar dari got di pinggir jalan untuk menyeberang jalan dan masuk ke got yang di seberang jalan. Padahal, di sekitar situ banyak kucing. Ada yang malas-malasan tidur-tiduran, ada kucing jantan yang sedang berahi mencoba merayu kucing betina, dan ada beberapa anak kucing juga.

Semuanya EGP (emang gue pikirin ) terhadap tikus-tikus yang seliweran. Begitu juga kucing dan anjing zaman sekarang sudah bisa tidur bareng satu ranjang seperti pengantin baru, dan para emak (yang tetap masih ditakuti suami) punya objek ketakutan baru, yaitu kecoa! Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, ekosiklus rancangan Tuhan yang sudah berlangsung hampir seumur bumi ini berubah atau diubah oleh ulah manusia.

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), seorang dokter dan pakar ilmu faal Rusia, telah membuktikan melalui eksperimennya bahwa seekor anjing, setiap anjing di dunia ini, bisa dilatih sedemikian rupa sehingga bisa mengeluarkan liur karena bangkit selera makannya hanya dengan sebuah bunyi bel. Padahal sebelumnya, mana ada anjing berliur ketika mendengar bel.

Anjing baru berliur jika ia melihat makanan. Berdasarkan hasil eksperimennya, Pavlov mengembangkan teori yang dinamakannya teori Conditioning atau teori Pembiasaan. Ternyata anjing bisa dilatih untuk mengikuti kebiasaan tertentu. Pelatih-pelatih anjing profesional maupun amatir (termasuk para pemilik anjing) bisa melatih anjingnya untuk berbagai hal, mulai dari menyuruhnya duduk, bersalaman, mengambil bola yang dilempar jauh, sampai mengendus narkotika.

Lebih jauh lagi, teori Pembiasaan ini bisa diterapkan juga pada hewan lain sehingga ikan lumba-lumba bisa disuruh berhitung dan anjing laut bisa disuruh bertepuk tangan. Maka itu, tidak heran kalau kucing pun lama-kelamaan tidak suka lagi makan tikus (karena nasi berlauk ikan asin sisa makanan majikan lebih enak). Karena itu, tikus pun tidak lagi takut pada kucing. Maka itu, tamatlah salah satu ekosiklus dan cucu saya barangkali tidak bisa menjelaskan mengapa Tom dan Jerry selalu bermusuhan dan Tom Kucing selalu takut pada Anjing Buldog. Begitu juga manusia.

Dulu sekali, ketika saya masih sekolah di SMP, dan belajar ilmu bumi, diajarinya makanan pokok orang Madura adalah jagung dan orang Ambon dan juga orang Irian (sekarang disebut Papua) makan sagu, di DIY ada masyarakat yang makan singkong sebagai makanan pokok. Tetapi, sekarang semua makan nasi, dari Sabang sampai Merauke makan nasi, sehingga Indonesia harus impor beras untuk seluruh penduduknya yang 250 juta orang.

Pantaslah kalau Presiden Jokowi marah sekali ketika daya serap Bulog untuk menampung panen petani di masa panen raya tahun ini rendah sekali. Tetapi, sebenarnya pemerintah sendiri jugalah (pada era Soeharto) yang membiasakan masyarakat makan nasi. Kalau ada masyarakat hari ini yang makan tiwul (singkong) di daerah tertentu, media massa bahkan sudah sewot memberitakan ada kekurangan pangan atau bahkan kelaparan di daerah itu. Begitu juga aspek lain dari seluruh kehidupan manusia.

Menurut teori Pavlov, semua karena pembiasaan. Ambillah apa saja dari kehidupan manusia, mulai dari bahasa, sampai ke politik, agama atau ilmu pengetahuan, semuanya karena pembiasaan. Orang Indonesia generasi saya berdwibahasa yaitu bahasa daerah yang dibiasakan di rumah dan bahasa Indonesia yang dipelajari di sekolah. Tetapi, cucu saya berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris karena kebanyakan nonton Tom & Jerry dan di sekolah diajarkannya bahasa Inggris.

Yang diajari bahasa Mandarin atau bahasa Arab di sekolah, ya ikut berbahasa Mandarin dan Arab sebagai bahasa kedua, tetapi bahasa daerah tetap makin hilang karena tidak dibiasakan. Yang jadi masalah sekarang adalah perubahan-perubahan yang terjadi hari ini makin lama makin di luar kontrol siapa pun, termasuk pemerintah, apalagi orang tua. Perubahan terjadi secara viral (menular seperti terkena virus) melalui teknologi informasi (TI).

Di sisi lain agama yang zaman saya kecil dulu tidak sepopuler sekarang, namun dikenal sebagai penyejuk jiwa yang memberi kedamaian spiritual, sekarang menjadi sangat populer, diikuti banyak orang, tetapi makin lama makin radikal, bahkan khutbah-khutbah yang sadis pun dikumandangkan di mimbar-mimbar khutbah di tempat umum dan tidak ada yang boleh atau bisa mengendalikan, termasuk pemerintah.

Karena itu, jangan heran kalau tidak ada upaya yang serius untuk mencegahnya, pada suatu hari keutuhan NKRI benar-benar terancam seperti negara-negara Timur Tengah sekarang. Teori Pembiasaan dari Pavlov akan menggelinding otomatis seperti bola salju yang makin lama makin besar dan melibas apa saja yang dilewatinya, termasuk NKRI.

Sarlito Wirawan Sarwono
Koran Sindo, 20/03/2016
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Sunday, 20 March 2016

Kzl

Kzl itu singkatan dari kata kesal. Di kalangan pergaulan saya sekarang, mereka menuliskan dengan singkatan kzl atau dengan tagar kzl atau menulisnya kezel. Nah, hari Minggu yang lalu saya menerima curahan kekesalan teman lama di masa sekolah dasar dulu, kalau gol pekerjaan dan hidupnya susah sekali tercapai.

Gol

Saya pernah membaca, kalau tidak salah, entah itu di mana, bahwa ada pernyataan yang mengatakan begini. Kalau mengatur gol itu jangan kerendahan karena nanti kita akan merasa puas, padahal kemampuan kita lebih dari itu. Bahkan kita jadi tidak tahu kalau memiliki kemampuan yang lebih.

Tetapi di sisi lain, katanya, kita juga sangat tidak benar memasang gol terlalu tinggi. Nanti kalau ketinggian, kita menjadi frustrasi dan kalau sudah begitu susah untuk meraih apa yang sudah dicita-citakan. Dan akan melahirkan perasaan bahwa saya ini kok tidak pandai dan tidak berhasil seperti teman-teman saya.

Maka, datangnya pesan berupa kekezelan teman lama itu seperti flashback mengingat berjuta kekezelan saya atas gol yang tidak tercapai di masa lalu. Tetapi hari ini saya mau membagi cerita mengapa beberapa keinginan yang saya ingin capai sekarang benar-benar dapat tercapai.

Pertama, saya terlalu percaya dengan ucapan yang pernah saya baca itu. Mengatur gol yang rendah itu ternyata buat saya malah mendatangkan rasa percaya diri. Artinya, saya bisa mencapai gol yang rendah itu, kemudian keberhasilan pencapaian itu membakar semangat untuk menaikkan target keinginan.

Keberhasilan itu melahirkan juga percaya diri, dan menjadi ketagihan untuk menaikkan tingkat pencapaian. Yaa... kalau dimisalkan, ketagihan itu mirip-mirip sifat kemaruk dalam diri saya. Bisa lari di Gelora Bung Karno empat kali, terus nambah jadi lima kali. Terus merasa hebat bisa lima kali.

Baru bisa membeli sepasang sepatu bermerek, kemudian ketagihan untuk menambah dua pasang lagi. Sudah punya satu apartemen, terus nambah satu lagi dengan sejuta alasan. Untuk investasilah, untuk itulah, untuk inilah. Jadi kadang kemaruk itu menyemangati saya untuk menabung dan mewujudkan impian dan menyadarkan saya bahwa kemampuan saya ternyata bisa lebih dari sekadar lari empat kali.

Cinta

Kedua. Saya ini orangnya iri hatinya tinggi. Saya sudah menceritakan itu kepada Anda berkali-kali selama belasan tahun melalui kolom ini. Apalagi sekarang ini begitu banyak media memasang profil-profil muda bahkan di bawah usia 25 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta per bulan.

Artikel-artikel itu memicu rasa iri hati saya seperti roket. Yang tidak saya sadari selama ini adalah perasaan iri hati itu jahatnya setengah mati karena ia mampu membutakan pengertian. Selama ini perkataan basi macam "kalau mereka bisa, saya juga bisa" saya eksekusi mentah-mentah. Ternyata eksekusi itu seperti tali yang dipakai untuk gantung diri.

Ucapan "mereka bisa, maka saya juga bisa" itu seyogianya saya maknai sebagai sama-sama sukses, dan bukan memaknai kalau mereka bisa naik gunung, saya juga bisa naik gunung yang sama. Bertahun lamanya saya seperti itu.

Saya menantangi diri saya dengan kemampuan yang tidak ada pada diri saya. Seyogianya saya bisa mengerti kalimat "sana bisa, sini juga bisa" itu adalah sama-sama bisa menuju puncaknya, bukan sama-sama naik gunungnya. Biarkan mereka berhasil naik ke puncak gunung, saya berhasil menaiki puncak sebagai penyanyi atau ahli matematika.

Ketiga. Saya berhenti memasang target pencapaian dan gol atau apa pun istilahnya itu, dan mulai belajar mencintai diri sendiri. Orang yang tidak mencintai diri sendiri itu seperti saya. Bertahun gagal itu karena menyiksa diri ingin naik gunung, padahal kaki gemeteran karena tidak kuat. Tidak mencintai itu adalah melakukan hal tidak sehat, padahal sejak awal tahu kalau itu tidak sehat.

Jadi saya belajar untuk mencintai diri setelah sekian belas tahun jatuh pada kebodohan. Saya mengurangi dengan sangat rasa iri hati. Karena dulu saya berpikir, iri itu ada baiknya bisa memberi semangat untuk maju. Ternyata sama sekali tidak benar. Iri itu negatif. Negatif itu yaaa. menurut saya tak dapat berdampak positif.

Berikutnya, saya melihat apa kemampuan yang dianugerahi Yang Kuasa untuk saya. Melihat apa yang saya sukai untuk dikerjakan. Kemudian menerima dengan lapang dada kalau IQ saya jongkok. Maka, bermodalkan semua itu, saya menjalani hidup dengan cinta.

Ada teman saya berkomentar begini. "Orang kok nggak punya gol. Hidup elo jadi nggak jelas gitu dong. Ke sana kemari." Nah, hebatnya yang namanya cinta, ia memiliki radar untuk mendorong seseorang melakukan eksekusi yang tepat sehingga mencegah memiliki hidup yang ngalor ngidul. Dan, radar yang satu ini hanya bisa dirasakan melalui nurani.

Setelah saya menjalani tiga langkah itu, saya melihat kalau gol itu mengganggu kerjanya radar dan mengurangi kepekaan nurani. Gol itu mendatangkan tekanan, mendatangkan kepanikan. Menjalani hidup dan pekerjaan dengan cinta menuntun kepada keinginan tanpa kzl.

Maka, tak jarang saya mendengar bahwa seseorang memiliki usaha di lima kota, padahal itu tak pernah ada dalam agenda kerjanya sejak awal. Itu bukti cinta itu menuntun dan bukan memorakporandakan masa depan.


Samuel Mulia
Kompas, 20/03/2016
Penulis Kolom PARODI Kompas

Pajak

CUKUP lama saya menunggu Romo Imam di rumahnya. Dia baru datang menjelang sore dengan menenteng map kertas. "Maaf, saya antre lama di kantor pajak. Menyerahkan SPT pajak penghasilan, saya pikir bisa cepat seperti tahun lalu," katanya. "Ada peraturan baru diterapkan Direktorat Pajak, nantinya semua wajib pajak akan menyetor laporannya lewat online."

"Kalau sudah bisa menyetor online, berarti tak perlu datang ke kantor pajak, dong," kata saya. "Tinggal utak-atik komputer di rumah masing-masing. Asal sudah punya e-mail dan didaftarkan di Kantor Pajak, ya, langsung bisa melaporkan SPT pajak."

Romo Imam tertawa. Ia tetap santai dan cerah, meski tampak capek. "Saya dengar di kota-kota besar begitu. Wajib pajak yang sudah akrab dengan Internet tinggal mengisi laporan tahunan pajak penghasilannya di formulir yang sudah ada. Tentu sebelumnya sudah mendaftarkan email-nya untuk mendapatkan kode identitas. Kita yang tinggal di kota kecil, untuk yang sekali ini tetap datang ke Kantor Pajak. Tahun depan sudah tidak lagi."

Saya kurang jelas maksud Romo, apa bedanya tinggal di kota besar dan kota kecil. Romo pun menjelaskan panjang-lebar. Intinya, wajib pajak di kota kecil ini dianggap tidak akrab dengan Internet. Ketika dia datang ke Kantor Pajak, antre dulu di bagian pendaftaran, dicatat data wajib pajaknya. Kemudian diberikan formulir untuk memperoleh Electronic Filing Identification Number (EFIN) ke loket khusus. Di sini antrenya lama, karena setiap wajib pajak ditanya apa sudah punya email atau belum. Kalau belum, dibuatkan di sana. Kalau sudah punya, diberi tahu caranya berhubungan ke website Direktorat Pajak, bahkan langsung dipraktekkan di sana, termasuk mengisi setiap kolom. Bayangkan betapa lamanya untuk setiap orang. "Padahal wajib pajak seperti kita yang sudah akrab dengan Internet kan tinggal diberikan selebaran. Atau buat saja iklan di koran. Bukan dikursus singkat seperti ini. Meski tinggal di kota kecil, banyak yang sudah paham Internet," kata Romo, masih dengan nada riang.

Saya paham sekarang, tapi Romo melanjutkan, "Ya sudahlah, ini kemajuan luar biasa, tahun depan Kantor Pajak akan sepi, semua orang melaporkan lewat e-filing." Saya memotong, "Memangnya Romo bayar pajak berapa? Romo kaya, ya?"

Romo kaget dengan celetukan saya. "Ini bukan soal kaya, tetapi kewajiban kita untuk membayar pajak dari harta dan penghasilan yang kita dapat, meskipun kecil. Pajak berkaitan dengan harta, itu sudah pasti. Saya baru paham kenapa ada dua ratusan lebih anggota parlemen yang belum menyetorkan laporan hartanya ke Komisi Pemberantasan Korupsi," kata Romo.

Betul, ada 203 anggota DPR yang belum menyetorkan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara ke KPK. Tapi apa hubungan itu dengan pajak penghasilan? Ini jawaban Romo, "Bisa jadi anggota DPR itu curang. Kalau ia laporkan harta kekayaannya dengan benar, yang jumlahnya besar, berakibat pada pajak penghasilannya yang juga besar. Kalau KPK mempublikasikan harta itu ke publik, masyarakat bisa bertanya, dari mana harta sebanyak itu? Apalagi kalau aparat penegak hukum menyelidikinya. Ini berbahaya buat mereka. Tetapi kalau laporan harta dibuat kecil juga bermasalah, di ujung jabatan akan ketahuan peningkatan harta yang tak wajar. Bisa dituduh dapat gratifikasi atau hasil korupsi."

"Tapi wajib anggota terhormat itu melaporkan hartanya dengan jujur," kata saya. Romo langsung berkomentar, "Jujur itu sulit, mereka memilih tidak melaporkannya, yang penting ramai-ramai. Sayang, ini contoh buruk."

Putu Setia
Tempo, 201/03/2016
Wartawan Senior Tempo

Sunday, 13 March 2016

Gerrrhana

Ini tidak salah ketik. Saya menuliskan sebagai Gerrhana, dengan rrr tiga, karena gerrr sendiri sudah langsung menunjukkan sesuatu yang lucu, ada humor. Dalam hal ini humor tentang gerhana. Saya kadang kesengsem, tertarik dengan permainan kata. Dulu saya memakai istilah sinetron, singkatan dari sinema eletronik. Lalu anak turunannya menjadi sinehong—sinetron dari Hongkong. Gerrrhana mungkin tidak akan menjadi bahasa yang sering diistilahkan, karena jarang terjadi.
Kalau mau dibedakan, orang yang menjadi bahan humor, menjadi obyek, tak harus dalam kostum sebagai pelayan, sebagai jongos, sebagai batur, sebagai kasta pidak pedarakan. Orang dengan kelas sosial yang paling tersisih di antara yang tercecer. Kini obyek itu bisa berseragam wakil rakyat, atau dalam sosok menteri, wakil atau bahkan presiden. Bisa pula situasi dan kondisi tertentu, peristiwa yang sedang hangat. Pemilihan materi humor pada situasi dan kondisi dan atau situasi tertentu ini, merupakan jenis yang baru, lucu, dan kadang juga haru.
Karena di daerah terjadi ketidak-adilan dalam menyaksikan Gerhana Matahari total 2016, mohon kiranya gerhana tersebut diulang. Jenis ini tetap mengandung unsur mengejutkan, yang merupakan syarat terjadinya humor, menurut Pak Teguh Srimulat, yaitu permintaan agar :gerhana matahari total, GMT,bisa diulang. Sesuatu yang sangat tidak mungkin, karena gerhana matahari total bukanlah pilkada atau pemilu di daerah tertentu.
Dan memang terkait dengan kejadian sebenarnya soal pilkada yang di beberapa tempat diulang. Kekesalan, rasa kurang puas pada penyelenggaraan pilkada, yang tak selalu tertuju pada penyelenggara atau calon yang dipilih, atau Negara sekalipun,tersampaikan ketika ada peristiwa GMT. Saraf tawa kita tergetar mana kala kejutan dari yang tak mungkin sempat menumbuhkan kepekaan untuk menangkap materi tersebut menjadi sesuatu yang lucu.
Zaman Presiden Soeharto ada Gerhana Matahari Total. Juga di era Presiden Jokowi. Lalu presiden-presiden yang lain ngapaian saja selama ini? Jenis ini menurut saya (orang lain tak usah menurut tak apa) adalah jenis yang “86”, jenis yang aman, tidak membully, tidak juga mengorbankan atau menyudutkan seseorang atau banyak orang, tidak juga menjelek-jelekkan situasi tertentu.
Tidak juga mengunggulkan Presiden Soeharto dan Presiden Jokowi atas presiden yang lain, karena memang GMT tak ada hubungannya dengan kuasa presiden mana pun. Dan kalau jenis ini, jenis yang “aman tanpa makan korban”, yang “nggeguyu tanpa ngasorake”, yang aman—yang dalam bahasa anak gaul disebut chill, tak ada apa-apa,tanpa cedera yang lebih berkembang, benar-benar pencerahan baru tengah terjadi. Dalam keberadaan seperti inilah humor viral lahir, berkembang, dan dikutip oleh media-media yang selama ini sudh dikenal, dan terus berkomunikasi dengan dinamika besar yang dimiliki.
Bersamaan juga dengan dunia media sosial yang penuh informasi, penuh caci maki, penuh ludah dan lidah, humor jenis ” Gerhana yang gerr tanpa perlu ada yang dikorbankan”, tanpa harus ada korban tertentu dan tetap gerrr, menawarkan sesuatu yang tetap berharga, ketika kebebasan menjadi segalanya.
Ternyata dalam berhumor kita bisa menjaga diri untuk tidak merendahkan kawan lain, tidak “menjatuhkan”—kadang pengertian sebenarnya, melainkan bersikap cerdas. Dan tetap gerrr. Contoh humor Gerrrhana Muhammadiyah dan Nadlatul Ulama sepakat gerhana matahari berlangsung 9 Maret 2016. Masih dengan tema gerhana, juga muncul tulisan dan atau meme seperti di atas. Mau tak mau kita tersenyum, diingatkan bahwa ada kalanya Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama, berselisih soal waktu yang tepat dimulainya berpuasa—dan juga berakibat kapan merayakan Lebaran.
Kadang ini berlangsung beberapa tahun berturut-turut. Sehingga kita hapal dengan kemungkinan perbedaan pendapat dalam penetapan waktu. Varian lain yang dimunculkan, misalnya jenis humor yang juga menuliskan kesepatan kedua ormas terbesar ini, dalam menetapkan hari saat 17 Agustus misalnya. Sama seperti varian yang lain, justru tidak ada hubungan menetapkan ini, menjadikan sesuatu yang lucu. Hati-hati saat melihat GMT, Nampak bayangan mantan. Ini juga lucu, menarik, dan tidak menyudutkan siapa pun, karena mantan (pacar, pasangan), bisa berate luas dan tidak menyebutkan secara spesifik.
Pacaran itu seperti gerhana, nunggunya lama, kejadiannya singkat. Gambar atau meme antara aku (bumi) dan kamu (matahari), yang terhalang oleh mantan (bulan). Bahkan ini sangat infromatif dan karenanya mudah dimengerti, karena memakai idiom soal pacaran, soal mantan dan hubungan percintaan. 
Arswendo Atmowiloto
Koran Jakarta, 12/03/2016
Budayawan 

Saturday, 12 March 2016

Independen

Gambar untuk hasil beritaAKHIRNYA Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berbulat tekad maju sebagai calon gubernur lewat jalur independen. Ia pun sudah menunjuk calon wakil gubernur, yakni Heru Budi Hartono yang kini Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI. Ahok memuji Heru sebagai pegawai negeri sipil yang bersih.

Berita dan ulasan tentang Ahok yang nekat ini mengalahkan berbagai isu. Kasus Labora Sitorus yang digerebek ratusan polisi dengan kendaraan barakuda, yang ternyata juga gagal menangkapnya, kalah oleh "Ahok yang independen". Gerhana matahari total yang langka itu pun beritanya hanya bertahan beberapa jam, dan malah candaan gerhana menyerempet ke politik, seolah-olah politik sudah jadi candaan yang sah di negeri ini.

Lalu, apa lagi yang ditulis soal Ahok? Semua sisi sudah dikupas habis. Maka, inilah cerita tentang seorang bakal calon bupati yang mendapat dukungan besar dari rakyat tapi gagal menjadi calon.

Ia seorang pegawai negeri sipil, istilah yang dipakai masyarakat "kader bukan partai". Karena antusiasnya masyarakat menginginkan dia menjadi bupati, maka digadanglah dia untuk maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Partai mana yang mengusung? Tidak ada. Maka, jalan yang terbuka hanya jalur independen.

Para relawan pun mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP). Spanduk dan baliho bertebaran di jalan-jalan. Tiba-tiba pimpinan cabang partai besar mendekati bakal calon bupati independen ini dan menawarinya untuk diusung partai. Bahkan siap memasangkan "kader partai" sebagai calon wakil bupati, pertanda serius. Pengumpulan KTP pun berhenti. Hanya bikin capek, toh partai besar sudah mendukungnya.

Pilkada semakin dekat. Partai sebelah sudah punya calon yang pasti, tinggal mendaftar. Tapi sang mantan calon independen belum mendapat rekomendasi, yang ternyata harus diteken ketua umum partai di Jakarta. Pimpinan cabang partai yakin rekomendasi akan turun, tapi "semuanya tergantung Ibu Ketua Umum". (Kalau menyebut Ibu Ketua Umum, sudah ketebak partai apa ini, biarlah).

Apa yang terjadi? Dua hari menjelang berakhirnya pendaftaran peserta pilkada, rekomendasi dari ketua umum partai ternyata jatuh kepada pasangan lain yang disebut "murni kader partai". Sempat heboh sesaat. Namun jawaban pimpinan cabang partai enteng saja: "Keputusan memang hanya ada di tangan Ibu Ketua Umum." Kalaupun ada kata-kata tambahan, seperti ini: "Politik itu dinamis, apa pun bisa terjadi" atau "Kita harus amankan keputusan partai" atau ini lagi "Mekanisme pengajuan dari bawah sudah benar, tapi keputusan memang dari Jakarta". Begitulah nasib "kader bukan partai" yang sial, meskipun "masyarakat akar rumput" sudah mendukungnya. Kembali menjadi calon lewat jalur independen tak mungkin lagi, selain kekurangan KTP dukungan, juga tak memenuhi syarat karena tahapan verifikasi dari Komisi Pemilihan Umum sudah lewat.

Sudah pasti orang sehebat Ahok tahu kisah seperti ini, setidaknya bisa mencium baunya. Ahok meminta PDI Perjuangan tegas apakah tetap akan mendukung Djarot Saiful Hidayat sebagai Wakil Gubernur Jakarta pada pilkada 2017, yang berarti juga mendukung dirinya. Jawaban tak kunjung datang, dan Ahok pun tak mau "dijatuhkan" menjelang pendaftaran.

Sederhana sekali sesungguhnya, Ahok hanya membutuhkan kepastian dengan maju sebagai calon independen. Warga Jakarta pun membutuhkan kepastian apakah Ahok betul-betul maju. Adapun soal deparpolisasi dan "hal-hal yang bikin gaduh", itu hanya bumbu pilkada. Maklum, Jakarta milik Indonesia. 
Putu Setia
Tempo, 13/03/2016
Wartawan Senior Tempo

Tuesday, 8 March 2016

AKu Duluan

Hasil gambar untuk berebut duluanSaya punya kebiasaan jalan-jalan santai, keliling kompleks tempat tinggal saya, juga ke kompleks-kompleks perumahan sekitar. Sering pula ke kampung-kampung asli di dekat kompleks. Biasanya saya mulai berjalan pada pukul 05.00 pagi setelah subuh dan kembali ke rumah sejam kemudian. Masih gelap memang, tetapi masih sepi dan udara masih segar betul.

Nah, pada suatu pagi, ketika saya berjalan-jalan santai itu, saya hendak menyeberangi jalan lingkungan yang masih sepi menuju pulang. Ketika tinggal beberapa langkah lagi mencapai seberang, ada sebuah sepeda motor yang mau lewat, tetapi dia hendak memaksakan lewat di depan saya, padahal di belakang saya jalan terbuka luas untuk dilewati. Baru setelah jelas dia tidak bisa masuk di depan saya, dia mengambil jalan di belakang saya.

Saya heran, beda waktunya antara dia lewat di depan saya atau di belakang saya adalah nol detik, alias tidak ada sama sekali, tetapi kok dia memaksa? Maka saya pikir, mungkin buat pengendara motor itu ”yang penting aku duluan!”

Peristiwa kedua saya alami ketika saya baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Dari terminal kedatangan ke tempat kendaraan penjemput, ada jalan yang cukup luas, untuk para penumpang menyeberang. Tempat penyeberangan itu dibuat sangat aman: ada zebra cross, lampu lalu lintas dan satpam yang berjaga.

Pada waktu itu saya sedang menyeberang, kebetulan sendirian, karena masih pagi, belum banyak penumpang. Saya berada di zebra cross, lampu lalu lintas sedang hijau untuk saya (pejalan kaki) dan satpam juga sudah mengacungkan tangan untuk memberhentikan kendaraan. Ada satu taksi yang saya lihat akan lewat, namun saya terus saja berjalan karena saya harapkan taksi itu akan berhenti untuk memberi jalan.

Nyatanya taksi itu memaksa lewat dan memilih lewat di depan saya, bukan di belakang saya. Saya terkejut dan secara refleks saya hantam taksi itu dengan tas yang kebetulan saya pegang. Kena kap mesinnya dengan suara keras. Saya pun sudah siap-siap jika sopirnya turun, jadi saya sudah pasang kuda-kuda (buat lari, bukan buat mengajak kungfu), tetapi nyatanya taksi itu lanjut terus, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Kembali saya heran, kok dia memaksa ya? Maka saya pikir pokoknya buat sopir taksi itu, ”yang penting aku duluan!”

Dalam psikologi, ”yang penting aku duluan!” adalah perwujudan egoisme. Yaitu pandangan bahwa aku adalah sentral (pusat) segalanya, yang paling utama dan semua harus dilihat dari kepentinganku. Saya yakin bahwa para pembaca pun sering mengalami peristiwa seperti saya.

Karena itulah orang Indonesia segan mengantre, senang menyerobot jalan, melawan arus, bergaya katak dalam meniti karier (tendang ke bawah, sikut ke samping, sembah ke atas untuk mencapai kenaikan pangkat), dsb. Karena itu, cukup sering kita dengar berita betapa mudahnya orang cabut pistol dan menembak kepala orang hanya karena saling salip di jalanan. Buat mereka ”yang penting aku duluan!”.  

Beda sekali dengan suasana di ruang kuliah atau ceramah. Rata-rata mahasiswa atau audiens tidak mau langsung mengisi saf terdepan walaupun tidak ada tamu VIP yang akan datang. Sesudah saya panggil-panggil dan saya imbau-imbau, barulah beberapa mahasiswa atau audiens menggeser beberapa baris ke depan, itu pun dengan enggan.

Padahal dalam agama (Islam) diajari kalau mau salat berjamaah penuhi dulu saf paling depan untuk mempermudah yang hadir belakangan. Ajaran yang baik ini dalam praktik sehari-hari juga tidak dilaksanakan dengan baik. Lihat saja betapa banyaknya jamaah Jumat yang tidak masuk ke dalam masjid (apalagi mengisi saf terdepan), dan lebih memilih mengobrol di pinggir-pinggir masjid walaupun khotbah sudah mulai.

Contoh lain lagi bisa diajukan. Ketika tiba saat makan pada suatu acara para tamu dipersilakan mengambil makanan yang digelar secara prasmanan. Biasanya para tamu tidak langsung berdiri untuk mengambil makanan, melainkan saling menunggu, yang lainnya mulai duluan.

Nanti, kalau sudah ada yang mulai, yang lain pun menyerbu mengambil makanan dan yang tadi menolak untuk duluan sudah mengambil di barisan paling depan dan mengambil paling banyak, tanpa memikirkan nasib tamu-tamu lain yang sama-sama kelaparan. Kembali saya heran, mengapa orang sudah lapar kok masih menolak untuk mengambil makanan? Atau menolak untuk duduk di depan pada acara kuliah atau ceramah, atau bahkan waktu Jumatan di masjid?

Kalau buat orang-orang yang saya ceritakan di atas tadi ”yang penting aku duluan!”, buat tipe yang belakangan ini ”yang penting kamu duluan!”
Dalam psikologi, kecenderungan untuk mendahulukan orang lain, kalau perlu tanpa memedulikan kesehatan atau keselamatan diri sendiri, dinamakan ”altruisme”.

Altruisme dan egoisme sebetulnya saling bertolak belakang. Tetapi orang Indonesia punya dua-duanya. Kadang dia egois, tetapi kadang dia altruis. Bagaimana mungkin?

Ketidakmungkinan itu bisa terjawab jika kita mau sedikit mendalami gejala ini. Apa yang menyebabkan mahasiswa atau audiens tidak mau duduk di depan atau mengambil makan duluan?  Motivasinya sebenarnya bukan untuk menolong atau mendahulukan orang lain, melainkan takut dikenali, atau ditanya-tanya oleh dosen, oleh panitia atau oleh senior atau oleh siapa saja dan tidak bisa menjawab, kan malu?

Buat yang malas mengisi saf depan di masjid, motivasinya pun bukan untuk memberi ruang ke jamaah lain, melainkan agar nanti bisa cepat pulang duluan. Jadi tetap saja ”yang penting aku duluan!”
Sarlito Wirawan Sarwono
Koran Sindo, 05/03/2016
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia