Sunday, 21 February 2016

Ang Pao

Ang Pao, atau amplop merah, selalu dikaitkan dengan Imlek, atau Sin Cia, atau tahun baru berdasarkan kalender Cina. Dirayakan serentak di banyak Negara yang banyak dihuni masyarakat Cina, termasuk di Indonesia. Kini bahkan termasuk hari libur,setelah “tidur dan tergusur” di masa Orde Baru. Berbeda dengan pesta tahun baru di negeri lain, Imlek berlangsung sampai pesta Cap Go Meh—tanggal 15 saat bulan purnama. Bukan hanya itu perbedaannya. Pada Imlek ini ungkapan yang popular adalah Gong Xi Fat Cai. Dan di sini bedanya. Dalam ucapan itu tak terkandung ungkapan “happy new year”, atau “sugeng warsa enggal”. Ungkapan aslinya ini lebih menjurus ke arti “selamat dan semoga banyak rezeki”. Artinya unsur rezeki lebih menonjol dibandingkan menyebut selamat tahun baru.

Rezeki atau juga kemakmuran yang disimbolkan dalam huruf “fu” menjadi hiasan utama yang ditempel di pintu. “Fu”, juga berarti keberuntungan atau fortune, dekat dengan makna panjang umur. Dengan kata lain pada pesta Sin Cia, yang utama berkait dengan ekonomi : kemakmuran, keberuntungan. Sesuatu yang konkret dibandingkan misalnya “selamat tahun baru.”

Dari segi budaya, tradisi merayakan tahun baru jauh lebih tua sekitar 500 tahun dari tahun baru Masehi. Atau lebih tua lagi dengan perhitungan yang berbeda. Demikian juga kebiasaan memberi atau menerima ang pao, atau amplop warna merah. Pada awalnya tentu saja belum ada yang namanya amplop, melainkan kertas bungkus.

Pilihan warna merah yang mencolok adalah menegaskan makna pemberian uang—atau koin. Ang pao ini biasanya diberikan oleh mereka yang telah menikah, dan diberikan ke anak-anak, atau yang belum menikah. Kemudian sekali juga diberikan kepada orang tua. Sebagai bentuk budaya, ang pao sungguh luar biasa. Terkandung unsur pemberian, kasih, peduli, juga kegembiraan. Maka tradisi pemberian juga berlaku di Vietnam dan Korea selain tentu saja yang diaspora. Sedemikian elok sehingga ada bentuk lain yang disebut amplop hijau di Malaysia dan Brunei serta Singapura saat merayakan Lebaran.

Perjalanan dan kisah amplop merah telah melalui batasan Negara, batasan budaya, dan menjadi bahasa pergaulan atau menjadi idiom komunikasi. Termasuk di negeri asalnya sendiri yang tadinya muncul dari dongeng ada hantu kecil yang suka menganggu anak kecil—dan menyebabkan anak kecil sakit panas. Duit koin yang dirangkai bagai kalung sebagai penolak bala. Apalagi perkembangannya yang kemudian diterima dalam berbagai kesempatan berbeda. Bukan hanya saat merayakan tahun baru, melainkan juga ketika ada pesta pernikahan, pesta keberhasilan, dan bentuk-bentuk lain yang dimungkinkan : di toko-toko juga memberikan ang pao.

Dengan demikian, hasil budaya, bentuk-bentuk seperti merayakan tahun baru, merayakan musim tanam setelah musim dingin yang ketat, juga ang pao telah memperkaya dunia. Memberi makna peradaban, dan memperkaya kebersamaan sebagai umat dunia.
Arswendo Atmowiloto
Koran Jakarta
Budayawan 

0 comments: