Monday, 25 August 2014

Pagelaran Orang Bergelar

Pergelaran Orang Bergelar
SAYA bersama teman-teman pada tahun kedua di perkuliahan pernah gagah-gagahan membikin sebuah pertunjukan teater. Kami menyebutnya pergelaran. Kami membuat acara itu karena sebelumnya kami juga menyaksikan mahasiswa-mahasiswa lainnya membuat acara yang dijuduli serupa, yaitu pergelaran, tepatnyapergelaran tari tradisional. Sedangkan kami, pergelaran teater. Istilah kasarnya, kami membuat acara itu hanya karena ikut-ikutan.
Pesan positifnya barangkali karena kami mengikuti ajang kreativitas, bukan ajang curi-mencuri. Hanya memang, istilah ikut-ikutan itu sebenarnya sudah bermuatan pesan negatif. Tetapi sudahlah, lupakan itu!

Acara itu secara fisik memang sangat sederhana, mulai dari panggung alakadarnya, pencahayaan tidak teratur dan tata rias semampunya. Hal itu sebenarnya lebih cocok dikategorikan sebagai sebuah acara kejar tayang jika tidak boleh dikatakan sebagai sok pamer. Tapi jangan salah, pergelaran sesederhana itu tidak menjadi terjemahan persiapannya juga sederhana. Kami sebelumnya sudah mengadakan persiapan njelimet mulai dari rapat, pembentukan panitia, penyebaran proposal (pada akhirnya hampir tak ada yang cair) hingga latihan akting yang capek-nya luar biasa, bahkan sesekali diwarani percekcokan tapi kami lebih senang menyebutnya debat.

Tidak Lepas dari Konteks
Belum berhenti sampai di situ, kami juga harus merogoh kantong (yang sebenarnya sudah bolong karena kiriman dari kampung juga belum cair) secara terpaksa. Ringkasnya, kami berkorban harus menghemat hanya untuk acara sesederhana itu, padahal kami sebagai mahasiswa yang umumnya berasal dari kampung juga masih serba kekurangan.

Akhirnya pergelaran yang minim dana itu diselenggarakan. Perjuangan kami pun makin berat ketika pada waktunya kami harus berjuang setengah mati untuk menyenangkan hati kami sendiri yang sedang kupak-kapik. Hati kami miris melihat jumlah penonton sangat minim, bahkan teman sekos pun saat itu tidak mau menonton. Sialnya, dia juga mahasiswa yang agak identik dengan saya, mengaku pejuang mahasiswa yang membenamkan idealisme harus tetap mengaung-ngaung di ubun-ubun.

Hasilnya? Kami rugi secara materi. Itu saja. Hanya, belakangan saya bangga pernah menjadi mahasiswa giat, setidaknya sok giat. Pada titik inilah kemudian saya paham bahwa seni itu bukan tentang uang. Dia tentang kebanggaan ketika kita pada akhirnya selesai menghajatkannya. Masalah pada akhirnya karena seni kami mendapat uang, itu bonus tidak terduga dan tentu saja banyaknya uang dihasilkan dari satu ajang seni bukan indikator bahwa seni yang dipergelarkan berkualitas. Demikian juga sebaliknya. Saya bahkan lebih senang menyebut kualitas seni terdapat pada kepuasan kita, bukan pada penonton, apalagi pada jumlah uang yang didapat.

Lalu, apa kaitannya dengan bangsa kita, terutama dalam hal pendidikan? Apakah bangsa kita juga ikut-ikutan seperti kami yang juga ikut-ikutan?
Begini, negeri kita boleh saja dicap secara sembarangan, entah itu serampangan, sembrono atau tidak jelas. Itu terserah mereka! Hanya, kita harus berefleksi apakah ucapan-ucapan itu benar-benar kongruen dengan keadaan kita atau setidaknya mempunyai kemiripan atau tidak. Lihat, diubah-ubahnya kurikulum hanya karena menteri pendidikan diubah, misalnya, tentu bisa diparalelkan bahwa bangsa kita juga masih tidak terarah atau yang lebih fatal, tidak punya fondasi. Sekali lagi, mengartikannya terserah kita, asal pengertian itu tidak dilepaskan dari konteks.

Begitulah, kemudian saya sangat geram ketika April lalu, orang pertama dalam dunia pendidikan kita, M. Nuh, memberi keterangan ambisius tentang beasiswa sebanyak 15,6 triliun.

Mencengangkan! Konon dana sebanyak itu katanya difokuskan untuk percepatan peraih gelar doktor. Artinya, secara sederhana bangsa ini akan serta-merta maju karena jumlah doktornya akan bertambah. Relevankah, sebegitu dekilnya indikator penilaian dijadikan menjadi argumen?
Saya tidak tahu. Yang pasti, pesan sang menteri bisa menjadi bias bahwa Indonesia sedang kekurangan orang bergelar doktor. Jangankan sarjana dan master, sekolah dasar hingga menengah seakan tidak disinggung. Padahal, mereka yang akan bergelar doktor sudah pada tua-tua. Kasarnya, setelah wisuda barangkali mereka sudah memasuki rentang usia improduktif yang lalu pensiun, mudah-mudahan tidak meninggal. Maaf!

Apakah kita begitu saja menggelontorkan dana sebanyak itu hanya pada mereka yang akan pensiun? Mengapa kita tidak memulai dari usia dini lalu merawatnya hingga lulus menjadi doktor pada usia produktif dan bukan semata doktor-doktoran yang tidak tahu berbuat apa-apa? Mengapa kita tidak memeratakan pendidikan saja, sebab saya yakin mereka yang akan doktor sekarang adalah keturunan orang menengah ke atas. Artinya, mereka yang kebetulan terlahir miskin pada posisi tidak sebodoh orang menengah ke atas tadi jadi terabaikan hanya karena mereka belum sarjana apalagi master, karena semata tidak punya biaya.

Mengobral Gelar
Saya curiga, barangkali tindakan sang menteri itu serupa tindakan kami waktu kuliah, yang gagah-gagahan dan ikut-ikutan. Lihat negara lain dengan rakyatnya banyak bergelar doktor yang kemudian maju, misalnya, membuat kita terbutakan. Akhirnya, kita salah menafsirkan bahwa banyaknya gelar akan berkorelasi positif dengan kemajuan bangsa. Seperti kata Bandung Mawardi, Indonesia kini ibarat negeri yang mabuk gelar. Gelar diartikan sedemikian buruknya menjadi legitimasi yang akan membawa Indonesia pada babak perubahan.

Jika kemudian kecurigaan ini menemui definisi terbaiknya, di sinilah pemerintah kita telah melakukan hal sama dengan kami sewaktu mahasiswa. Mereka membuat orang-orang bergelar doktor menjadi bahan komoditas pergelaran.

Untung-untung dilirik, dijamah, kemudian dibeli. Kalau tidak, kita hanya akan puas karena sudah menghasilkan doktor saja tanpa tahu gelar itu belum berarti apa-apa karena mereka masih gamang untuk berbuat. Atau, katakanlah pemerintah belum siap membukakan lapangan pekerjaan untuk mereka karena pada saat sama doktor-doktor itu pun tidak berhasil menciptakan lapangan pekerjaan.

Tetapi sudahlah, mari menunggu, barangkali komoditas pergelaran ini bakal dilirik dan lantas dibeli. Umpamakan saja kali ini kita sedang mengobral para kaum bergelar, siapa tahu laku di pasaran untuk kelak memajukan bangsa. Jika pun tidak, semoga pergelaran orang bergelar ini sama dengan pergelaran seni, yang walaupun tidak dilirik kita tetap puas, karena melakukan yang benar. (Oleh: Riduan Situmorang)

Penulis staf pengajar bahasa Indonesia dan konselor pendidikan di Prosus Inten Medan

0 comments: