Showing posts with label Mohamad Sobary. Show all posts
Showing posts with label Mohamad Sobary. Show all posts

Thursday, 31 March 2016

Petani yang Teraniaya dalam Sejarah

Peta dunia pertanian pada abad ke-18, ke-19, dan awal abad ke-20—abad yang belum lama lewat—menggambarkan suasana penuh gejolak, keresahan, dan pertumpahan darah.
Pada abadabad tersebut, di negeri China, Rusia, Vietnam, Indonesia, dan negara-negara Amerika Latin, kaum tani menjadi kekuatan paling revolusioner di dunia. Sejarah petani negeri-negeri tersebut merupakan sejarah pergolakan revolusi. Mungkin dari sinilah Bung Karno menemukan gagasan bahwa petani merupakan soko guru revolusi.

Kelihatannya Bung Karno membuat generalisasi bahwa kaum tani yang melakukan gerakan seperti itu bukan hanya kaum tani Indonesia. Soko guru revolusi menjadi bahasa politik yang sakral. Mungkin bahkan tampak ”garang”. Dan kaum tani, yang kemudian bermetamorfosis menjadi kaum marhaen, ditampilkan dengan penuh harga diri. Petani dianggap kekuatan mahadahsyat.

Dari dalam diri golongan orang-orang yang kelihatannya diam, penuh kesabaran, dan nrimo apa pun yang terjadi, timbul ledakan ”amuk” massa yang tak terkendali. Jiwa petani tampak seperti dinamit yang siap membuat ledakan demi ledakan tak terduga selama abad-abad tersebut, di negeri-negeri tersebut.

Tapi demi keadilan sejarah, kelihatannya ada yang harus dikatakan lagi: petani berani menjadi pemberang, menjadi kekuatan revolusioner yang mudah meledak karena ada yang ”menjadikannya”. Sebaiknya disebutkan di sini bahwa petani merupakan bahan mentah yang baik untuk ”dijadikan” kekuatan revolusioner.

Dengankatalain, petanimenjadi kekuatan revolusioner itu karena ada kepemimpinan yang memungkinkannya demikian. Petani Banten kelihatannya tak akan mungkin tampil sebagai kekuatan revolusioner kalau dunia pesantren, terutama kalangan kiai tarekat, tidak turun tanganuntukmenawarkankepemimpinan yang begitu efektif dan penuh kewibawaan.

Karisma para kiai tarekat yang membagikan jimat-jimat, yang akan membuat mereka kebal peluru, telah membuat petani tak gentar menggempur kaum kafir yang berkuasa di negeri Banten, sebagaimana ditulis sejarawan Kartodirdjo dalam pemberontakan Petani Banten 1888 itu. Beruntung kita punya Bung Karno, yang memandang peran sejarah kaum tani dengan sikap romantis seorang tokoh pergerakan.

Dan untung kita punya Bung Karno yang kaya akan ungkapan metaforis. Kalau tidak, kita tak mungkin akan punya marhaen, yang dikapitalisasi menjadi marhaenisme dalam politik, yang begitu berwibawa dan memesona. Kalau petani disebut petani, datar, dan cenderung apa adanya begitu saja, siapa yang tergetar secara ideologis? Bung Karno punya itu.

Dan para pemimpin yang lain, sampai hari ini, tidak punya. Kecuali anakanak ideologis Bung Karno. Kemampuan menempatkan petani ke dalam ungkapan ideologis-metaforis, menjadi marhaen, atau kaum marhaen, telah mengubah realitas sosiologis petani menjadi realitas ideologis tanpa menghapus kenyataan bahwa kaum marhaen itu petani yang teraniaya dalam sejarah. kaum marhaen lalu menjadi kekuatan perjuangan revolusioner untuk membela keteraniayaan itu.

Dan secara ideologis, kaum marhaen tetap kaum marhaen dalam kategori sosiologis sekarang: marhaen kita itu petanipetani yang tetap teraniaya dalam sejarah. Kaum marhaen, dan marhaenisme dalam ideologi kelihatannya tak akan pernah basi selama kaum nasionalis masih tetap nasionalis.

Di dalam politik kita yang belum bisa bersikap adil pada masyarakat, dan otomatis juga belum bisa berbagi kemakmuran secara merata, kaum marhaen tetap menjadi bahasa perjuangan— ada kalanya bahasa perlawanan—yang tetap memiliki sentuhan emosional yang menggetarkan.

Ketika kekuatan partai politik yang mengagungkan marhaenisme sedang menjadi partai penguasa seperti sekarang, perjuangan kaum marhaen seharusnya tidak di jalanan. Mereka tidak sibuk merespons kebijakan pemerintah yang tak sensitif terhadap kehidupan kaum marhaen, melainkan bermain dengan baik di dalam perumusan kebijakan publik yang menata kehidupan mereka.

Politisi-politisi mereka di dalam partai maupun di parlemen seharusnya lebih sensitif mengamati menteri dan lembaga yang berurusan dengan kaum marhaen agar kaum marhaen diberi perlakuan sebaik-baiknya di dalam kebijakan publik yang mereka rumuskan. Kalau partai marhaen berkuasa, tetapi kaum marhaen masih telantar, maka apa gunanya kekuasaan?

Apa pula gunanya perjuangan ideologis lewat partai, untuk memuliakan kaum marhaen, petani, yang tetap teraniaya? Kalau ketika berkuasa saja tidak bisa menggunakan kekuasaannya, apa yang bisa dilakukan ketika tak berkuasa? Kaum marhaen, petani, saat ini ibarat kata tercekik oleh banyak tekanan. Menyempitnya lahan pertanian karena desakan kebutuhan untuk membuat rumah, jelas mempersempit napas perekonomian mereka.

Tekanan-tekanan pasar global dan perdagangan global yang rakus, serakah, dan ekspansif, tak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah, yang memiliki kewenangan regulasi pasar, harus turun tangan dan mengatur dengan bijaksana apa landasan ideologis beroperasinya sistem perdagangan.

Tidak bisa pemerintah yang berkuasa hampir atas segalanya, tapi malah menyerahkan hampir segalanya pula kepada pasar? Pasar bukan pemerintah. Maka pasar harus tunduk pada pemerintah yang memegang kekuasaan regulasi tadi. Apa yang sudah didominasi kekuatan global, dan yang segalanya sudah telanjur menjadi bagian aturan global, tak berarti kita sudah tak berdaya.

Di tingkat pelaksanaan, yang teknis-teknis, pada tingkat lokal, dan tersebar di berbagai wilayah negara kita, kekuasaan kita masih besar. Dengan kata lain, aturanaturan yang sudah terlanjur menjadi porsi kekuatan global itu masih memiliki celah-celah dan di sana sini masih belum diatur dengan baik.

Di situ kita bermain. Disiturakyat, kaummarhaen, petani, diberi kesempatan mengatur dirinya dengan baik. Syukur pula bila pemerintah memiliki sedikit keberanian dan kreativitas untuk meninjau kembali apa yang berupa peraturan serba global yang serakah itu.

Ideologi perjuangan yang bertumpu pada kaum marhaen, petani, dalam kekuasaan pemerintahan hanya merupakan cuilan kecil yang seharusnya tak terlampau sukar ditata untuk membuat kaum marhaen, petani, tak merasa terjajah dan teraniaya terus menerus oleh kekuatan-kekuatan besar yang tak terlawan.

Kaum marhaen, petani, terutama petani tembakau, yang disorot dari luar dengan mata setajam pitung penyukur , tujuh ketajaman silet tergabung menjadi satu, yang membuat mereka bergetar ketakutan, kepada siapa mereka berlindung kalau ketika partai berlandaskan marhaenisme yang sedang berkuasa saja tak mampu memberi perlindungan?

Perjuangan pembebasan ini begitu nyata, begitu jelas di depan mata. Hari ini, dan dalam situasi seperti ini, bukan lagi saatnya berteriak secara ideologis, yang hanya menambah polusi kata-kata di udara. Perjuangan partai, perjuangan para tokoh di parlemen dan para pemegang kebijakan publik di pemerintahan, berhadapan dengan persoalan teknis yang sama. Apa sulitnya melindungi petani, agar hidup mereka tak selamanya teraniaya?

MOHAMAD SOBARY
Koran SIndo, 30/03/2016
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih,
buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com

Friday, 18 March 2016

Batara Kala Mencaplok Dunia

Cara kita mencari penghidupan— juga dalam dunia perdagangan—memerlukan aturan yang adil. Keadilan itu harus sudah ada dalam pikiran kita. Dengan begitu, ketika bertindak, kita sudah memiliki kiblat yang jelas.
Kiblat itu orientasi nilai yang memberi kita panduan ke arah mana dan dengan cara bagaimana kita harus melangkah. Rasa adil tak pernah boleh kita lupakan. Langkah dan segenap tindakan tak boleh mengabaikan arti keadilan tadi. Keadilan bagi sesama pedagang menjadi perkara penting. Keadilan bagi sesama warga suatu masyarakat menjadi cita-cita ideal.

Juga keadilan bagi seluruh rakyat di suatu negara. Keadilan bagi sesama manusia terdengar seperti teriak perjuangan lintas etnis, lintas agama, lintas bangsa. Ini perjuangan tertinggi yang bisa diimpikan manusia. Tapi persaingan di dunia bisnis tidak seperti itu. Dunia bisnis telanjur membiarkan semangat untuk menang sendiri. Bisnis dan ilmu silat memiliki kesamaan dasar: di atas gelanggang hanya ada juara satu juara, tidak ada yang lain, karena juara kedua sudah terkapar tinggal nama.

Ketika kita belum tercaplok perdagangan bebas, persaingan dunia bisnis ini sudah mengerikan. Orang sampai bilang: di dalambisnistakadasaudaratakada kawan. Bisnis ya bisnis. Biarpun saudara, utang harus ditagih. Biarpun kawan, utang harus dikejar. Kita mengejarnya siangmalam tanpa mengenal lelah. Sesudah era perdagangan bebas menguasai kita, hidup terasa lebih menakutkan. Siapa malas tergilas, siapa lemah terinjakinjak.

Mereka yang kuat menguasai pasar dan dengan begitu mereka menguasai dunia. Iklan sebuah produk di Amerika Serikat menyatakan: nomor satu di Amerika, nomor satu di dunia. Dulu, pernyataan itu terasa menghibur karena ada sejenis heroisme Amerika yang segar, humor tentang kelebihan diri yang terasa narsistis, tetapi kita terima dengan senyum penuh pengertian.

Namun sekarang, humor di balik iklan tersebut mengandung sejenis ancaman untuk mendominasi seluruh dunia dan kita menjadi yang didominasi dan diinjak-injak. Para aktor dalam dunia perdagangan bebas kelihatan jejingkrakan penuh watak adigang, adigung, adiguna dengan sesumbar: “Siapa berani melawanku? Inilah aku. Inilah aku....” Sekali lagi, yang malas tertindas, yang lemah terinjakinjak tak berdaya, yang kuat jaya dan menjadi raja seperti di dunia binatang buat yang menggunakan hukum homo homini lupus .

Di dunia seperti itu, kata belas kasihan terhapus dari kamus kehidupan semua orang. Orang telah menjadikan dirinya mesin. Ilmu dan teknologi mutakhir menjadi andalan utama. Jika ilmu dan teknologi tak mencukupi, digunakanlah akal. Bahkan hidup dipenuhi pula oleh sikap serba-akal-akalan dan tipu-menipu. Tapi tipumenipu di sini haruslah canggih dan tak kelihatan. Pihak yang ditipu pun sampai tak merasa bahwa dirinya ditipu.

*** Dalam perdagangan global tembakau, hal itu tampak sangat nyata. Gerakan antitembakau, yang menggunakan alasan membela kesehatan masyarakat, berlangsung mulus dan penuh percaya diri di kalangan aktor-aktor utamanya. Semangat membela kesehatan masyarakat itu seperti tak terbantah.

Tapi kalau kita berpikir agak lebih cermat dan kritis, sebuah negara besar yang selamanya hanya mengejar kepentingan diri sendiri untuk tetap menjadi yang terbesar, mengapa tiba-tiba berubah menjadi begitu lemah lembut dan penuh welas asih kepada negara lain? Sejak kapan negara itu menaruh perhatian pada kesehatan masyarakat negara-negara lain? Kita dikecoh tapi tak merasa terkecoh. Sabda para pemimpinnya didengar oleh para pemimpin dunia. Kehendak baik yang datang dari pemerintahnya dianggap tugas suci oleh pemerintah berbagai negara yang tunduk, taat, dan patuh kepada mereka.

Dan ada saja yang kepatuhannya kepada mereka terasa begitu berlebihan. Kepatuhan itu disertai niat tanpa ragu untuk mengorbankan rakyat sendiri. Aturan global mengenai tembakau ditelan mentahmentah oleh pemerintah negara lain yang menjadi abdi setianya. Dan aturan mematikan itu di-copy paste —seperti ditelan tanpa lebih dulu dikunyah— untuk diberlakukan bagi rakyatnya, para petani tembakau dan para industriwan yang mengolah tembakau tersebut.

Mantra gaib pun bergaung di seluruh dunia: tembakau musuh kita. Lalu kita saksikan suatu perubahan mendadak: tanpa ba tanpa bu, artinya tanpa ada suatu temuan ilmiah yang meyakinkan, merokok yang dulu “mengganggu” jantung, pertumbuhan janin dan lain-lain mendadak berubah: merokok membunuhmu. Ini akal-akalan yang menggelikan. Tapi sebagai kekuatan yang penuh akal, apa yang hanya bersifat akal-akalan pun dipercaya. Berjuta-juta manusia percaya akan apa yang tak pernah dialaminya.

Berjuta-juta manusia percaya akan apa yang tak pernah dilihatnya. Di pasar bebas hari ini, pebisnis tembakau terbesar menguasai segalanya. Juga termasuk menguasai para penguasa. Mereka disuruh membuat peraturan ini dan itu yang menguntungkan bisnis mereka. Dan para penguasa itu anehnya mau melakukannya. Ini mungkin jenis penguasa inlander yang kagum pada pebisnis yang kulitnya putih, tetapi hatinya hitam kelam. Dia mengelola pabrik di sini, tetapi tak pernah pabriknya membeli tembakau di sini. Ini pabrik besar yang tak pernah bersentuhan dengan petani yang menyediakan bahan mentah.

Pabrik yang tak ada sangkut pautnya dengan produk lokal pun dibiarkan oleh pemerintah yang kagum pada pebisnis yang putih kulitnya. Pabrik itu bahkan dilindungi. Banyak dalih bisa dikemukakan mengapa mereka tak menaruh peduli kepada para petani lokal. Mereka tak butuh tembakau petani di sini karena mereka bertanam tembakau di tempat lain.

Usaha ini sukses luar biasa. Bahkan dia pun memengaruhi perumus kebijakan untuk membuat suatu aturan yang menguntungkan dirinya. Kebijakan itu pun dibuat. Pasar dikuasai dengan menggunakan dukungan ilmu dan teknologi mutakhir. Tembakau dipojokkan dengan argumen kesehatan yang begitu gencar. Meski begitu usaha mematikan tembakau lokal itu belum juga berhasil. Argumen kesehatan dianggap tidak mempan, kandas di jalan.

Orang tak begitu mendengarkannya. Mereka beralih ke argumen ekonomi bahwa mengonsumsi tembakau—dalam hal ini kretek— merupakan pemborosan. Tapi ini pun tak didengar orang. Kemudian digunakanlah argumen moral bahwa mengonsumsi kretek itu haram. Begitu langkah mereka. Tapi sejauh ini tak terasa apa pengaruhnya. Sebenarnya dunia sudah dikuasai kekuatan-kekuatan monopolistik yang luar biasa besar. Mereka ibarat raksasa, Batara Kala, yang telah mencaplok dunia. Mereka telah berkuasa.

Dunia ada di dalam genggamannya. Tapi mereka lupa bagaimana cara mengunyah semuanya sampai tandas. Batara Kala pun termangu-mangu melihat kebesaran dirinya. Dia heran, mengapa yang kecil tak semuanya tercaplok.

Mohamad Sobary 
Koran Sindo, 18/03/2016
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan