Tuesday, 15 March 2016

Pilkada di Tanah Betawi

Sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali menonjol ketika hendak mencalonkan diri kembali menjadi gubernur DKI Jakarta. Keberadaan Ahok menyita perhatian media dan khalayak ramai.
Sebagai petahana, ia punya segalanya untuk eksis di ruang-ruang publik. Simpati, dukungan, dan ada juga arus penolakan berbagai kalangan atas pencalonannya. Hari ini publik menempatkan gubernur DKI sebagai figur sentral sehingga jadilah pilkada di Tanah Betawi ini identik sebagai fenomena Ahok.

Sebenarnya Ahok belum terlalu menyulut kontroversi di ruang publik ketika mendampingi Jokowi sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Namun, sejak menjadi gubernur, ia berkalikali mencuri perhatian karena gaya bicaranya yang spontan, blak-blakan, keras, bahkan dianggap kasar dan kotor.

Dalam waktu tidak terlalu lama Ahok adalah fenomena kontroversi setahun menjelang Pilkada DKI. Tampilsebagaisosokpemimpin fenomenal, Ahok semakin percaya diri dan berani berhadapan dengan siapa pun, tak terkecuali tokoh seperti Prabowo Subianto—yang memberinya ”kereta kencana”—atau Megawati Soekarnoputri sekali pun.

Sparring partner politiknya selama ini semisal H Lulung dan Muhammad Taufik di DPRD DKI terlihat sukses dilangkahinya. Percaya diri yang kian tebal mengantarkannya berani menolak dan menantang seluruh partai politik dengan mendeklarasikan diri sebagai calon independen. Ia lebih tertarik menggandeng ”Teman Ahok” untuk mengusungnya.

Gaya komunikasi politik Ahok sangat khas, spontan tanpa tedeng aling-aling. Pada sisi pendukung, inilah pesona Ahok yang utama. Namun, gaya komunikasi politik Basuki Tjahaja Purnama sepintas lalu tidak berbeda dengan latar budaya komunikasi penduduk asli Jakarta yakni Betawi.

Komunikasi gaya Betawi oleh engkong, encang, enyak, babeh, biasanya membangun komunikasi dengan hal yang ringan, mudah dicerna, dan cenderung blak-blakan. Dialog menjadi mudah dan nyambung melalui sesuatu yang ringan dan terus terang. Tetapi, bicara blakblakan etnis Betawi lebih pada wilayah privat, bukan di wilayah publik.

Di wilayah publik orangorangtuakitatidakmelemparkan tuduhan dan kesalahan orang lain begitu saja. Sikap ini cara komunikasi orang Betawi yang jujur, terbuka, tapi penuh tanggung jawab. Sebetulnya komunikasi dua arah dapat terbangun apabila masing-masing lawan bicara secara enteng menyampaikan maksud dan tujuan.

Sesuatu yang ringan disampaikan akan mudah untuk mencapaikesepakatan. Sakingmudahnya membuat kesepakatan, acapkali orang Betawi dikenal sebagai orang yang paling toleran dalam menghadapi banyak realitas sosial.

Gaya Betawi

Bahasa Betawi bersifat lugas, tetapi santun. Komunikasi santai, tetapi menjaga etika gaya nyak babe sangat pas dengan komunikasi modern. Media komunikasi era modern seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya selalu menampilkan percakapan santai apa adanya.

Seorang Facebooker misalnya, biasanya meng-update statusyangringandandapatdilihat oleh semua teman. Demikian pula pengguna Twitter cukup men-twit kalimat yang sederhana dan mudah ditangkap maknanya oleh semua follower-nya. Sebaliknya, komunikasi gaya Ahok ada yang menganggap sebagai penyakit endemik di DKI. Menular ke tokoh-tokoh kunci dan jejaring sosial.

Akhirnya pada hari-hari ini di Tanah Betawi kita dipertontonkan berbagai komunikasi yang berat dan terkadang sarat caci maki. Apakah ini komunikasi ala Betawi, ketika semua umpatan muncul di ruang-ruang publik dan panggung- panggung politik? Seharusnya semangat warga Jakarta dengan komunikasi lugas, santun, dan santai menjadi cermin bagi elite politik di Tanah Betawi ini.

Mirisnya, hal itu terjadi di tengah semaraknya komunikasi ringan ala Betawi yang menjadi tren komunikasi global dan di Tanah Air. Komunikasi menurut termin ilmu komunikasi adalah percakapan dua arah mengenai suatu persoalan. Dalam termin ilmu politik, komunikasi dapat menjadi komunikasi politik yang juga mengedepankan tujuan politik, tetapi dengan partisipasi keterlibatan dua arah.

Komunikasi di ruang publik tentu akan berbeda dengan ruang privat. Ruang privat biasanya lebih santai dengan celetukan- celetukan yang lebih familier seperti bertutur gaya elugue, elu-gue. Sebaliknya di ruang publik, bahasa formal dan santunlah yang menjadi cara berkomunikasi.

Donald Trump, kandidat calon Presiden AS, menggunakan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dalam Pemilihan Presiden AS 2016 karena isu ini yang paling mudah untuk menarik perhatian pemilih. Di Pilkada DKI 2012 isu SARA menjadi bagian kampanye terselubung di media sosial.

Tren ini dipastikan akan berlanjut lagi pada Pilkada DKI 2017 karena pemanasan terhadap isu ini masih terus berlangsung hingga sekarang. Pilkada merupakan ruang publik. Kampanye dan ucapan kandidat pasangan calon harus memperhatikan keberadaan pasal-pasal larangan untuk bicara menyinggung unsur SARA seperti tertuang dalam UU No 08/2015 tentang Pilkada dan Peraturan KPU No 07/015 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bahkan mengatur larangan caci maki di ruang publik seperti tertuang dalam Peraturan KPI No 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Peraturan KPI No 02/P/KPI/03/ 2012 tentang Standar Program Siaran yang menyatakan program siaran tunduk pada peraturan dan kebijakan teknis tentang pemilu/ pilkada.

Ada anggapan bahwa sebelum masuk masa kampanye, isu SARA dapat dijual dan kemudian akan berhenti ketika masa kampanye. Jika pandangan ini yang menjadi arus utama dari tim pemenangan, dikhawatirkan Pilkada DKI 2017 tidak terwujud karena sudah muncul konflik horizontal di Ibu Kota.

Kembali ke Betawi
Orang Betawi tahu bagaimana menempatkan diri, kapan bicara di ruang publik dan di ruang privat. Karena itu, di Tanah Betawi ini semua etnis dapat tinggal dan berbaur. Warga Betawi boleh bangga. Nenek moyang orang Betawi rajin mengaji, pergi haji, dan tidak korupsi. Mereka juga bertutur bahasa sangat hati-hati.

Etika sebagai orang Betawi seperti dicontohkan dalam film atau sinetron Si Doel Anak Sekolahan tentu menjadi pelajaran buat para elite. Mereka tidak kasar, tidak korupsi, dan rajin mengaji. Hari ini terjadi distorsi makna di ruang publik. ”Lebih baik bicara kotor daripada jadi koruptor”. Padahal, engkong, encang, enyak, babeh tidak bicara kotor dan juga tidak menjadi koruptor.

Saya khawatir publik digiring kepada pemahaman bahwa orang yang rajin mengaji dan bertutur bahasa ramah adalah koruptor. Kesimpulan itu dibangun berdasarkan premis mayor bahwa setiap orang yang bertutur kotor bukanlah koruptor. Ironis dengan premis-premis tersebut, jika si Pulan misalnya bertutur tidak kotor, tapi bisa disimpulkan dia adalah koruptor.

Pilkada DKI 2017 patut dibekali semangat ”Kembali ke Betawi”. Semangat yang berintikan kedamaian dan ketenteraman sehingga banyak orang senang tinggal di Jakarta karena minimnya kerusuhan sosial antaretnis. Variabel budaya Betawi inilah yang menjadikan pendatang betah dan terus membangun kekerabatan dengan warga Betawi yang sudah datang sebelumnya.

Variabel itu adalah sikap toleran dari orang Betawi. Selain itu, ”Kembali ke Betawi” juga berarti kita kembali kepada nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Tujuan untuk menyejahterakan warga Jakarta tidak boleh melupakan cara untuk mencapai kesejahteraan. Berkomunikasilah dengan santun, terutama di ruang publik, karena hal itu diajarkan oleh orang-orang tua kita.

Mereka yang berkomunikasi dengan baik tentu tidak akan marah ketika ditegur karena itu bagian dari komunikasi dua arah. Dengan pendekatan ”Kembali ke Betawi”, setiap orang tidak dengan mudah melabeli orang lain. Demikian juga orang yang marah-marah tidak mudah dicap bahwa ia seorang koruptor.

Begitu sebaliknya buat yang berbicara dengan santun. Seperti si Doel yang rajin mengaji, pergi haji, dan juga tidak korupsi. Menyambut Pilkada DKI, mari kembalilah ke Betawi dalam cara berpikir, bersikap, dan berkomunikasi! Jangan jual isu SARA di area publik.

RAMDANSYAH
Koran Sindo, 15/03/2016
Sekjen Partai Idaman,
Ketua Panwaslu DKI 2009-2012

0 comments: