Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup
semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak
berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu.
Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua,
ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan,
menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk
dijual.
Namun tanda itu tidak muncul-muncul. Padahal ini kapal bagan ketiga
yang sudah kami tunggu sejak meninggalkan PLTU Ancol tujuh jam lalu.
Jika dalam sejam lagi tidak ada cumi, artinya trip mancing alu-alu
dengan umpan cumi akan gagal. Istri dan anak-anakku yang selalu
menggerutu kalau aku keluar memancing pasti akan meledek habis-habisan,
memastikan memancing tidak hanya menghabiskan uang belanja bulanan kami
yang memang tidak pernah tersisa, juga waktu.
“Yeaah papa boncoos lagi,” teriak mereka jika aku hanya membawa seperempat cool box ikan. “Aduuh, mau diapakan ikan sebanyak ini,” sambut istriku jika aku membawa satu cool box dan satu styrofoam ikan dalam jumlah besar dan ukuran monster.
“Cumi makin susah, ikan juga makin jarang,” terdengar Mardi
menggerutu pelan membuyarkan lamunanku. Kapten sekaligus pemilik kapal
kayu tua yang biasanya irit bicara, mengeluhkan buruknya kualitas air
laut Teluk Jakarta penyebab berkurangnya ikan. Menurut dia, ikan seperti
manusia memerlukan air bersih untuk bernapas dan berkembang biak. Air
laut yang keruh kecoklatan sampai 2 km dari daratan membuat ikan sulit
berkembang.
Dulu orang ramai-ramai membuat rumpon dari becak yang ditenggelamkan
ke laut agar ikan bisa berkembang biak. “Sekarang jangankan rumpon,
semua orang malah menjadikan laut tempat sampah seluruh Jakarta. Tidak
ada lagi yang peduli dengan laut dan kehidupannya,” tandas Mardi.
“Kalau begini terus kita mungkin harus mancing di tengah, bahkan
terpaksa harus ke Pabelokan. Dengan kapal kayu tua ini sangat sulit
melawan gelombang. Sehari penuh baru bisa sampai ke Pabelokan,”
tambahnya.
Pabelokan, tempat persinggahan nelayan seluas 27 hektar di ujung
utara deretan kepulauan Seribu, sekarang terkenal sebagai pangkalan offshore dengan
beberapa rig yang masih aktif. Bagi pemancing, ini tempat bagus untuk
mengasah kemampuan mendapatkan ikan ukuran besar seperti GT (Giant Travelly), tenggiri dan kalau beruntung marlin.
“Kalau mau kita bisa rencanakan trip mancing ke Pabelokan,” aku
mengusulkan. Mardi hanya diam. Matanya terus menatap kapal bagan tanpa
berkedip. Beberapa kapal terlihat merapat mendekati kapal bagan. Jam
sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Padahal biasanya jam 23.00 kami
sudah mendapatkan cumi, umpan yang disukai alu-alu. Jika kapal bagan
tidak mengangkat jaring, dalam setengah jam lagi, artinya kami tidak
akan mendapatkan umpan.
Begitu fajar menyingsing, gerombolan alu-alu, akan menghilang.
Rencana memancing malam dengan cumi yang bersinar di kedalaman dan
menarik alu-alu, akan gagal.
Tiba-tiba Mardi berdiri dan meminta uang untuk membeli umpan. Aku
menyerahkan uang seratus ribu untuk umpan dan sisanya cumi buat dibawa
pulang. “Kalau bisa dapat untuk umpan saja sudah bagus bos,” ujar Mardi.
Dengan sigap dia meloncat melewati batang-batang bambu yang
melintang, melintasi jaring, dan menghilang di kegelapan dini hari. Lima
belas menit kemudian dia muncul menyerahkan kembalian 50 ribu. Ia
bergegas melepaskan ikatan kapal dengan kapal bagan dan menghidupkan mesin.Kami segera meluncur menuju spot yang diyakini Mardi tempat berkumpulnya alu-alu.
Seperti sudah diduga tangkapan hari itu tidak terlalu banyak. Mardi
hanya berhasil menangkap dua alu-alu ukuran setengah kilo, 2 ekor ikan
kuwe dan seekor kerapu karang, sedangkan aku menarik seekor alu-alu
ukuran satu kilo dan 2 ekor ikan kuwe. Namun Mardi tidak berkomentar
ketika aku menyatakan akan membuka trip Pabelokan. Dia juga tidak
menanggapi sms-ku yang menginfokan trip Pabelokan sudah dibuka di berbagai milis mancing.
Namun tidak banyak yang menanggapi undangan trip Pabelokanku. Satu
menyarankan aku membatalkan trip yang cukup berbahaya untuk kapal tua
seperti punya Mardi. Namun ada juga yang mendukung tanpa harus ikut,
dengan menjanjikan bantuan umpan, bahan makanan dan solar. Menurut
mereka, risiko pakai kapal tua sangat besar karena harus membawa solar
dalam jumlah besar. Di samping itu, cuaca di sekitar Pabelokan sulit
diprediksi. Hujan dan badai suka datang tiba-tiba.
Tidak heran, sebulan setelah undangan trip Pabelokan diposting, tidak satu pun anglers yang
menunjukkan minat ikut. Ketika bertemu Mardi dan menanyakan apakah dia
masih berniat memancing ke Pabelokan, Mardi hanya bertanya singkat:
“Kapan? Makin lama cuaca makin berbahaya. Kalau serius harus bulan depan
paling telat,” katanya.
Aku memastikan trip Pabelokan bulan depan, dengan atau tanpa ada angler
lain. Persiapan terus dilakukan termasuk menyiapkan stok solar yang
mencapai 2 ton. Beberapa teman mengumpulkan bahan makanan. Dua hari
menjelang keberangkatan semua peralatan sudah dimuat di kapal Mardi.
Tanpa upacara dan di tengah gigitan mentari, kami perlahan
meninggalkan dermaga PLTU. Tidak ada lambaian yang terlihat. Istriku
yang mengantar telah lama meninggalkan dermaga. Ia langsung pergi begitu
barang terakhir dikeluarkan dari bagasi mobil. Angin sore mendorong
kapal melaju menerobos gelombang. Deretan pulau-pulau, mulai dari Pulau
Bidadari sampai ke Pulau Macan, untuk menuju Pabelokan pelan-pelan
menghilang.
Saat gelap pekat mulai menyelimuti, Mardi bergumam, “Untung Jawa.”
Untuk kapal sekelas punya Mardi bisa melewati Untung Jawa yang penuh
kerlipan lampu dalam 4 jam sudah sangat lumayan. Perjalanan tinggal
melewati empat kelurahan lagi. Kelurahan paling ujung yang masuk dalam
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara adalah Pulau Harapan. Paling cepat
kapal Mardi sampai ke Pabelokan pukul dua siang besok.
“Tidur saja bos,” suara berat Mardi memecah kesunyian dan membuyarkan
lamunanku. “Mumpung cuaca bagus,” tambahnya. Tanpa menjawab aku
meluruskan kaki menggunakan ransel sebagai bantal, dan tak lama aku
pulas.
Byur, siraman air laut dan empasan gelombang tiba-tiba
membangunkan aku dari tidur panjang melelahkan. Sedikit gelagapan aku
melihat berkeliling. Mardi terlihat bekerja keras mengendalikan kapal
yang diguncang gelombang. Tidak ada kata keluar dari mulutnya. Gelombang
setinggi satu setengah meter mengempaskan kapal dengan guncangan yang
memporak-porandakan perut dan isi kapal.Aku
merangkak memegang dan mempertahankan boks berisi peralatan pancing dan
umpan. Hujan dan angin kencang serta petir dan kilat yang sambung
menyambung semakin menekan perasaan. Setiap empasan gelombang seakan
menelan kapal dan semua harapan ke dasar laut.
Entah berapa lama aku menelungkup, komat-kamit melafazkan doa,
memohon keselamatan sampai akhirnya hujan, petir dan kilat mulai mereda.
Mentari pagi menyeruak perlahan. Semilir angin tidak hanya
menenteramkan hati juga mendorong untuk melempar pancing. Mardi sudah
mulai melempar joran dan wajahnya tidak mengesankan kami baru saja lepas
dari terkaman gelombang dan hujan petir. Aku menyiapkan peralatan dan
melempar pancing mencoba peruntungan pagi.
Seperti perputaran nasib, pagi itu kami tidak henti-hentinya strike. Berbagai jenis ikan seperti kakap merah, kerapu, ikan kuwe dan bahkan tenggiri masuk cool box.
Alam memperlihatkan kemurahannya. Jam 10.00 kami sudah sangat
kelelahan. Mardi mereguk kopi dan kami menyantap nasi bungkus yang
disiapkan untuk sarapan pagi. “Kalau cuaca terus seperti ini jam 14.00
kita akan sampai di Pabelokan,” Mardi menjelaskan, sambil bersiap-siap
mengangkat jangkar.
Diiring angin kami meluncur menuju Pabelokan. Teriknya mentari seakan
menambah kecepatan kapal. Jika cuaca terus bersahabat, setidaknya
sebelum gelap kami akan mencapai Pabelokan dan besok siang kami
berkesempatan menjajal kemampuan memancing berbagai ikan monster.
Angin dan gelombang kembali membesar ketika kapal melewati Pulau Pelangi. Mardi meminta aku memakai lifevest dan
ia menggulung layar. Tetesan hujan mulai membasahi kapal. Awan gelap
menutup pemandangan. Empasan gelombang semakin mengguncang kapal. Kilat
dan petir sambung-menyambung. Hujan tidak hanya membasahi, juga
menggenangi kapal seluas 21 m2 itu. Air laut masuk ketika hantaman
gelombang menerjang. Mardi tidak bereaksi ketika aku mulai menimba air.
Entah sudah berapa lama aku menimba, tapi volume air semakin membesar.
Mardi berteriak agar aku mempererat lifevest dan berpegangan pada cool box.
Tapi suaranya hilang ditelan petir yang menyambar tiang layar yang
patah dua. Kapal tiba-tiba terangkat diterjang ombak setinggi lima
meter, dan badanku melayang seperti diterbangkan ke udara, terus
meluncur ke dalam laut yang serasa menghantam lantai salju. Separuh
sadar aku berusaha menggerakkan tangan dan kaki. Tapi pusaran laut
menarikku semakin dalam. Namun lifevest yang kukenakan menahan tarikan arus laut.
Tarik-menarik pusaran laut dan lifevest yang mengembang
semakin membuat aku kesulitan bernapas. Entah karena dorongan ingin
menghirup udara, tiba-tiba seluruh badanku mengentak dan seperti anak
panah aku meluncur ke permukaan. Namun hantaman gelombang kembali
mengempaskan aku ke dalam pusaran laut yang rasanya membelit kedua
kakiku. Kepala dan badanku serasa ditekuk dua, menerima hantaman
gelombang, dan tarikan arus bawah laut. Napasku hilang dengan air laut
yang memenuhi hidungku. Separuh tidak sadar aku menggerakkan badan dan
mencoba meraih apa pun yang bisa menarik ke permukaan. Tapi pusaran arus
kembali menarikku ke bawah. Dengan air laut memenuhi hidung, dan tenaga
yang sudah hampir habis, aku merasa sudah di batas kehidupan. Dalam
perjuangan terakhir mengambil napas, aku menutup mata dan meluruskan
badan dengan tangan terus menggapai-gapai apa yang bisa terjangkau.
Upps, tanganku serasa menyentuh sesuatu, dan langsung
mencengkeramnya. Setelah berkali-kali menggapai, aku akhirnya berhasil
naik ke permukaan, sambil terus berpegangan pada sesuatu, yang ternyata
terpal dan masih terikat kukuh pada tiang kapal. Dengan merangkak aku
melingkarkan tangan berpegangan pada tiang kapal dan aku tidak tahu lagi
apa yang terjadi selanjutnya.
Lapat-lapat aku mendengar suara dan merasa ada yang memegang
tanganku. Dengan mata masih tertutup aku mencengkeram erat tangan yang
seolah-olah menarikku ke permukaan. Separuh sadar aku berteriak “Mardi,
Mardi.” Dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak tahu entah sudah
berapa lama ketiduran, dan ketika membuka mata aku melihat istriku yang
tersenyum lebar dan dokter yang memegang nadiku sambil berkata, “Tidak
ada yang serius hanya perlu istirahat akibat dehidrasi.”
Istriku langsung memelukku dan menangis sesegukan. Tidak ada kata
yang keluar. Aku juga sangat lemas untuk memulai percakapan. Kami hanya
berpandangan, sampai dokter datang dan menyatakan aku boleh pulang.
Menurut istriku, aku ditemukan terapung di tiang kapal diselamatkan oleh
sebuah kapal pancing dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tidak ada
penjelasan mengenai Mardi dan lainnya karena kapal langsung ke darat
karena cuaca masih buruk.
Sesampai di rumah, sudah banyak orang menunggu, termasuk Ketua RT
yang langsung memperkenalkan seorang ibu dengan dua anak sebagai istri
Mardi. Si ibu bernama Nia langsung menangis dan meminta penjelasan apa
yang terjadi dan mengapa suaminya tidak diketemukan. Aku tidak menjawab.
Mulut dan pikiranku penuh dengan berbagai rasa. Tapi tidak ada kata
yang keluar. Istriku langsung menggandeng Nia dan membawa kedua anaknya
ke dalam.
Di dalam, tangis Nia meledak, “Mardi satu-satunya tulang punggung
kehidupan kami,” isaknya tertahan. Istriku memeluk Nia dan menjanjikan
akan menanggung biaya sekolah anak-anak Mardi serta mencarikan pekerjaan
untuk dia.
Rumah kami kembali sepi, setelah Nia pergi diantar istriku, dan
tetangga serta Ketua RT pulang. Perlahan aku membuka jaket mancing dan
meraba saku dalamnya. Ternyata hp-ku yang terbungkus plastik masih utuh.
Ketika dihidupkan, berderet sms berisi pesan dan pertanyaan apakah aku
dan Mardi selamat dari badai yang menghantam Pabelokan.
Tiba-tiba masuk sms dari Mardi: “Terima kasih bos.” Terperanjat, aku langsung menelepon, tapi tidak ada jawaban, hanya bunyi “tut tut tut” dan hilang. Sms ku
juga tidak ditanggapi. Suasana hening rumahku terasa mencekam. Untung
tidak lama kemudian istriku datang. Ketika kuceritakan ada sms dari Mardi wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Aku segera membuka hp dan mencari sms Mardi. Tapi sms-nya hilang. Istriku meminta aku segera istirahat dan bergumam, “Halusinasi sering terjadi kalau mengalami dehidrasi.”
Entah karena masih terkena efek dehidrasi, kepalaku terasa berputar.
Kosong. Tapi tidak lama hp-ku terdengar berdering dan Mardi dengan suara
beratnya menyatakan ia selamat dan sekarang bekerja jadi petugas
kontrol pembangkit listrik perusahaan minyak yang beroperasi di
Pabelokan. Ia menyatakan tidak akan pulang dan meminta aku menjaga Nia
dan kedua anaknya, “tolong jaga keluarga ane bos,” pintanya. Aku hanya
tersenyum mengiyakan.
Tiba-tiba istriku masuk dan menanyakan aku tersenyum-senyum dan
bicara dengan siapa. Ketika aku menyatakan baru saja bicara dengan Mardi
ditelepon, istriku menyerahkan hp-ku, sambil berkata: “hpnya tadi
ketinggalan di ruangan tamu,” dan “sekarang istirahat saja,” tambahnya.
Aku tidak menjawab. Kepalaku terasa berputar dan keheningan rumahku terasa semakin mencekam.
Monday, 29 February 2016
Mardi
DES ALWI
Kompas, 28/02/2016
Bekerja di KBRI Roma, lahir di
Pariaman, 3 September 1960. Cerpen pertamanya, “Isyu”, dimuat di Majalah
SMA 2 Padang tahun 1978. “Ms. Waston”, cerpen keduanya, dimuat di
“Kompas” tahun 2014 dan masuk dalam kumpulan Cerpen Pilihan
Kompas 2015. Pernah bertugas di KBRI Baghdad, Paris, London, dan Ankara,
serta wartawan majalah “Fokus” dan Harian Ekonomi “Bisnis Indonesia”
dan sampai sekarang konsisten mewujudkan cita-citanya sebagai penulis.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment