1/
Upiak masih saja termangu dengan belatinya
Hatinya bagaikan teriris
Semua tak berarti
Hanya ada hening, sepi, sunyi, dan batinnya yang kosong
Di hadapan makam suaminya ini
Upiak mulai bersuara lirih
“Maafkan adiak, ya, uda!
Adiak tidak bermaksud melakukannya
Hanya ingin memutus ranting-ranting kehampaan diri dinda!”
Kemudian sepi itu mulai makin tebal
Angin pun mulai kemayu
Mentari kelihatan letih
Dan, Upiak masih duduk di tempat yang sama
Matahari mulai hijrah ke ufuk barat
Upiak masih setia duduk termangu
Kemudian dilihatnya kembali belati itu
“Belati kebebasan dan pembunuhan”
Katanya dengan lirih, hampir tidak terdengar
Bagaimanapun, Upiak adalah istri yang baik
Ditaburnya kembali bebungaan itu
Kemudian bersujud dan merenda
“Maafkan aku ,ya, Allah!
Hamba mohon, terimalah mereka di sisi-Mu!”
Sekali lagi, diciumnya batu nisan itu
“Adiak mengagumimu dan menghormatimu,
Tapi maaf, adiak tidak bisa mencintaimu, juga Zahara dan Ismail”
Batinnya sembari berlalu di cela gerimis yang mulai galak
2/
Kala itu, Upiak bertarung dengan air mata
Malam tak mampu menyembunyikan air mata itu
Dia tetap keluar membanjiri pipinya
Dia tahu, ini pilihan tersulit
“Upiak, pilihlah benda-benda ini:
Belati jika kau memutuskan hubungan kita
Batu bila kau masih keras bertahan
Jarum pertanda kau memilihku
Atau gunting bila kau menganggapku tiada!”
Hmmmm, Upiak masih ingat!
Kala itu dia mencoba tersenyum
Lalu mulai menangis dan menangis lagi
Tetapi dia memang perempuan gagah
Dia tetap tersenyum walau hanya sekejap, dua kejap,
lalu mulai merintih lagi “Bisa Abang tambah pilihan?”
“Menambah pilihan tidak akan menyelesaikan masalah”
Ujar lelaki itu penuh haru setelah lama berdiam
Kemudian, akh, Upiak masih rela
menggelayut di bahunya
Dia tahu, hari ini menjadi hari terakhir bersandar di sana
“Adik sebenarnya tidak memilih belati
Adik terpaksa memilihnya
Bukan demi aku, tetapi demi Abang”
Lelaki itu kemudian tersenyum
Upiak ingat itu
Bahkan, itulah senyum terindah
selama mereka sudah pacaran!
“Ya, Allah, senyum terindah ini menjadi kenangan terakhir!”
Gerutunya dalam hati
“Itu bukan demi aku, tapi demi Upiak!”
“Mengapa?” ujar Upiak kala itu
“Kalau demi abang, adik pasti memilih jarum!”
Kemudian bisu mulai menghinggapi mereka
Angin malam masih letih
Gerimis pelan-pelan mulai menangis
Dan, bisu tetap makin mengganas
Tiba-tiba, Upiak berlari membawa belati setelah hatinya
bertengkar dahsyat
Sang lelaki terkesiap
Dia berusaha menangkap tangan si gadis
Tetapi si gadis berlari bagaikan mengejar setan
Hingga dia lenyap di telan malam
Jarum dan batu kemudian dia pentalkan
3/
Upiak adalah gadis manis, lincah, dan menggemaskan
Dua tahun sejak kelahirannya
dia masih mempunyai saudara
Katanya mereka kembar
Satu lelaki dan satu lagi Upiak
Sayang, si lelaki keburu meninggal
Konon, karena kurang diperhatikan ayahnya
Hmmmm, sejak itu
Ayahnya pemabuk menjadi haji, bahkan menjadi ustaz
Upiak besar kian disayang
Matanya bening memesona
Tingkahnya ramah dan bersahabat
Segala pemuda menunggu antrean
Di bumi kelahirannya yang permai
Nuraninya tertempa menjadi teduh
Imannya menancap dalam pada takwa
Baginya agama menjadi harga mati1
Sebab, ayahnya berujar
"Agama adalah satu-satunya jalan menuju surga!"
Dan, jadilah Upiak menjadi santri teladan
Sampai-sampai, dia tidak berniat untuk pacaran
4/
Cinta memang sederhana
Kita tidak tahu dia kapan datang
Yang pasti, cinta itu tidak pernah pergi
Sekali datang, dia hinggap untuk kelak menguap
Hari itu gelap menggurita
Upiak baru saja pulang mengerjakan tugas
Malam makin pekat
Angin lelah untuk sekadar mendesah
Hujan mulai runtuh
Dan, Upiak berlari berusaha meninggalkan hujan
“Jambreeeeeet!”Upiak berteriak
Malam makin lengang
Hujan makin ganas
Angin mulai berteriak Sekali lagi “Jambreeeeet!”
Suara itu lalu hilang digusur angin
Kemudian ada lelaki, kebetulan melintas
(Mungkin, Tuhan sedang mengirim malaikat :
malaikat untuk membatalkan tugas
malaikat pencabut nyawa)
“Hai kurang ajar”
Teriaknya tegas lalu menghantam
Sejurus kemudian, perkelahian tersaji
Bar kedebar
bar Bur kedebur
bur Bup bup bup
Dan, lelaki kiriman malaikat mulai lengah
Dia terjatuh setengah melawan
Hujan makin dan makin lahap
Upiak masih saja lemah berusaha menutup auratnya
Jilbabnya kini koyak, kancingnya berserak
Roknya lusuh dan basah hampir tersibak
Dan, entah siapa dan darimana lagi,
lelaki asing pun datang lagi
Tetapi menghantam lelaki yang baru rebah
tanpa sebuah ampun
Lakunya ibarat barbar lalu lari setelah puas
Di bawah pohon yang ramai
Lampu-lampu tidak kelihatan
Angin masih berteriak
Hujan pun makin menggilas
Petir mulai cemburu pada kilat
Dan, lelaki itu telah lemas berdarah
Pelan, Upiak mendekat dan mendekat
Lelaki itu hampir sekarat
Darahnya deras menjadi perkasa
Lalu, sesungging senyum mulai berkelindan
Upiak memeluknya tanpa takut fatwa bukan muhrim2
Pelukan itu lalu hangat melebur dibungkus angin
Bisik lembut mulai mengiringi ritme hujan
“Terima kasih, ya, Togar!”
Rupanya nama malaikat itu Togar
Lelaki itu tersenyum dan tampak gagah
dengan darah yang membanjir debu dan air
Kemudian, biarkan mereka melanggar fatwa bukan
muhrim lagi!
5/
Benar, semua sungguh tidak terduga
Kala itu, Togar adalah malam, Upiak siang
Upiak ombak, Togar memecahnya
Kalau Togar anjing, Upiaklah menjadi kucing yang selalu mengintainya
“Namaku, Togar” kata lelaki itu singkat
Upiak tidak terkesima, malah dingin
“Semua pria hampir sama saja,” gerutunya lagi
Upiak tetap dingin kala Togar menawarkan senyum
“Lelaki itu manis juga, tetapi dasar lelaki!”
Gumamnya kala itu
“Mana dia Kristen lagi!”
Semua manusia sama saja, tiba-tiba hatinya berontak
“Tidak, selalu ada kafir dan Islam3 ,” tegasnya menekannya
Tidak, semua sama saja!
“Diamlah,” sambungnya lagi
Kemudian, suara hati itu mulai takut dan hilang
6/
Suatu saat Togar orang Tarutung menyentuh Upiak
Dia menyentuhnya sebagai sapaan dan menanyakan
tugas
“Hei, kafir!” Togar tersentak
Hatinya bergetar
Matanya merah padam
Lalu pergi setelah memelototinya lama
Dia tidak terima sebutan yang baru saja melayang
Upiak mulai sadar
Ternyata dia sedang tidak di Padang
Dia sudah di Medan
Kota yang mengantongi benih kemajemukan
Lalu, setelah sore mulai merayu
Upiak mengintai sebuah sosok langkah
“Akh, di tempat ini?”
Upiak ragu, tetapi hatinya memaksa
Lelaki itu diam dan duduk
Yakinlah, betapa gagahnya dia!
“Menjumpai orang kafir?” suara lelaki itu agak lantang
Upiak tersenyum dan teduh
Langkahnya menawan
Angin senja mulai letih
“Kamu marah tadi?”
Lelaki itu mengangguk kemudian senyum
“Maaf iya, aku tidak sengaja!”
Lelaki itu tetap diam, lalu senyum
Di kursi ini, mereka menghabiskan malam
Cerita mengalun begitu anggun
Pepohonan rindang masih kokoh menebas malam
Upiak lalu menjelaskan
Islam itu ta ti tu
Gadis Islam itu ra ra ra
Togar mulai mengangguk
Daerahku Tarutung
Islam di sana minoritas
Aku bahkan tak tahu apa itu Islam
Yang aku tahu bapakku melarangku memacari gadis Islam
Dan, selama ini menurutku Islam itu tu li la
Dan Kristen itu da di du
Cerita makin mengular
Suasana mulai hangat
Mereka sepakat menertawakan kata kafir
Togar kemudian pamit
Upiak bergerak
Sederhana, bukan mau bercinta,
bukan mau pedekate, melainkan bermaafan!
7/
Setelah malam yang hampir kelabu
Upiak menjadi dekat dengan Togar
Upiak tahu, kalau tanpa Togar yang sebelumnya dia cap
kafir
Upiak pasti tidak perawan lagi
Bahkan boleh jadi dia akan mati
Dan tahukah kita
bahwa kehilangan perawan menjadi kutukan?4
Upiak sadar, perawan juga harga mati
Hmmmm, kelabu memang bukan awal petaka
Kelabu sering malah awal berkah
Dan Upiak sadar itu
Sejak itu kata kafir menemui kiamatnya
Asmara menemui definisi terbaiknya
Mereka mulai berjalan menikmati alam yang renyah
Mengelilingi taman tanpa tersesat pada kata bosan
Melewati malam yang selalu indah
Menikmati siang kerontang tanpa merasa panas
Mereka mulai sadar, segalanya menjadi indah dan hidup
Angin cemburu, mereka tidak peduli
Burung mengintai, mereka hiraukan
Malam memekat, mereka rayakan
Petir bergemuruh, mereka tertawakan
Pertemuan menjadi keniscayaan
Di toko buku
Di bioskop
Di lapangan
Di kolam renang
Di kos-kosan
Di gereja
Di mesjid
Sudah pasti juga di kampus
Lalu menyetubuhi jalan-jalan bopeng dengan riuh
Akhirnya berteduh di sudut kampus
Memegang tangan:
Mereka sadar, darah makin liar
Bulu kuduk makin subur
Jantung harus bekerja lembur
Ya, burung kemarin menjadi indah
Bunga menjadi lebih merona
Mereka tahu, mereka telah jatuh cinta
Tapi, haruskah melawan agama yang telah lama
mendefinisikan cinta?
Mereka adalah anak zaman, tapi
apakah mereka anak agama?
Mereka hidup dengan cinta, tapi
apakah agama mendewakan cinta?
Mereka tahu, ini berat
Mereka juga sadar, tidak bisa membohongi diri
“Mencoba tak mengapa, mengapa tak mencoba!”
Itulah sabda yang mereka teriakkan
Lalu berakhir pada pegangan tangan
Pada pelukan, ciuman, dan dekapan
Hingga pada gendongan mesra
8/
Togar memang kekar
Lelaki Batak tulen penerus garis patrilinear5
Ayahnya penatua adat
Bagi mereka kesalahan adat adalah aib
Kesalahan pergaulan juga kutuk
Ayahnya juga pendeta
Mobilisasi agama adalah dosa tak terampuni
Yesus adalah harga mati6
Tanpa Yesus, surga adalah kesia-siaan
Dulu, Togar menggaet putri Karo
Tapi, ayahnya berang
“Wajahku mau kemana kau buang”
Teriaknya saat itu
Sejak itu, Togar mulai membatasi pilihan: Batak Toba
dan Kristen
Tapi siapa sangka, semuanya menjadi tak terbayangkan
Dia tidak menyangka tanah sedang menari kalau sedang
bersama Upiak
Udara gemetar kalau Upiak menggandengnya
Bunga layu menjadi mekar, malam menjadi cerah, semua karena Upiak
Hmmmm, Upiak juga santriwati tulen
Mendambakan jejaka menjadi imam7
Tapi Upiak tahu, dia tidak bisa
memaksa Togar menjadi imam agamanya
Tapi Upiak sadar
Togar akan menjadi imam hatinya
Upiak juga mengamini petuah Togar
“Agama itu bukan ciptaan Tuhan
Agama adalah organisasi sekat-sekat insan
Manusia lebih dulu dari agama
Manusia menciptakan agama, bukan keturunan agama
Dan Yesus tidak mendirikan Katolik dan Protestan
Yesus adalah penyabda cinta kasih
Bukan penyada kampanye di kenisah
Yesus adalah nabi penyelamat
Bukan nabi penyekat
Yesus mencintai Samaria dan domba hilang8
Tidak membuang domba kasih sayang
Yesus mengorbankan diri demi cinta
Bukan mati demi kusta!
Yesus perongrong dusta, bukan alergi cinta
Kalaupun Islam adalah musuh
Bukankah Yesus menyabdakan kasihilah musuh-Mu?
Jika pipimu kanan ditampar, kasih lagi pipi kiri”
Ayahnya kemudian berang bagai petir mendahului kilat
“Yesus jalan satu-satunya menuju surga!
Kau masih bayi, aku pendeta
Jangan menduakan Yesus!
Teriaknya lalu pergi dengan otot-otot tegang
Togar kemudian menghinggapi siang yang lengang
9/
Upiak mulai mendebat
Niatnya memang sudah bulat
Tapi mulutnya belum nekat
Walau hati sudah kuat
Dipilihnya malam yang renyah
Ketika angin memesrai dinding-dinding penuh hikmat
Kala itu bulan tidak purnama, tapi tampak
lebih bercahaya
Bintang pun tampak berkejaran dan seakan cekikikan
Upiak dengan tingkah malu mulai menggandeng sang ayah
Ayahnya senang tidak kepalang
Dia tidak sadar,
gempa dahsyat akan segera menyeberang
Baginya Upiak adalah pucuk-pucuk anugerah
Apabila salah langkah akan menjadi murkah
Upiak masih saja mendebat
Hatinya memang kuat
Niatnya sudah bulat
Tapi, apakah nekat sudah tepat?
Upiak mulai teringat
Kala Togar memboncengnya
Upiak memeluknya dari belakang
Mereka tidak takut bintang mulai marah
Bulan mulai gelisah
Dan, bumi mulai menabur resah
“Upiak, kita tidak mungkin terus seperti ini
Suatu saat semua harus terang
Tidak ada katup-katup yang gamang
Cepat atau lambat, ayahmu harus tahu!
Upiak menggeliat
Lalu memeluk lelaki itu lebih erat
Pilihan ini memang berat
Lalu Upiak menggeliat lagi
“Waktunya belum tepat bang”
“Tidak ada waktu yang tidak tepat
Hanya ada kita yang tidak siap
Tidak memang harus cepat
Tapi jangan sampai lama terlelap
Cepat atau lambat, itu adalah tepat
Lambat adalah beban
Cepat juga beban
Tapi, haruskah kita mesti terbeban?”
Kini Upiak menjadi lebih kuat
Wajahnya berbinar walau matanya menabung buih-buih
Lalu tebaklah
Gempa itu ternyata gagal menyeberang setelah tsunami
keburu menerjangnya
Rupanya mata sang ayah lebih buas daripada mulut naga
Mulutnya lebih berkobar daripada tumpahan kawah
Badannya bergetar tak terukur skala apa pun
Wajahnya benar-benar melakonkan definisi terbaik
Kemurkahan
“Ayah seorang haji, ibumu orang terhormat
Di nadimu mengalir darah matrilinear!"9
Upiak mendebat pelan
“Matrilinear tidak menjadi imamkan?”
“Hai, racun apa yang kau dapat dari lelaki kafir itu?
Jangan menggabungkan budaya dan agama!
Kau tidak tahu apa pun
Allah itu satu dan itu adalah Allah kita
Kristen itu kafir
Kristen itu buas
Kristen itu serigala berbulu domba
Kristen itu penabur rese se se se
Kristen itu penurut setan tak terkira ra ra ra
Kristen itu penganut murkah kah kah kah
Dan Islam itu musafir
Islam itu bernas
Islam itu mulia
Islam itu pengagum nabi bi bi bi
Islam itu mulia a a a
Islam itu beradab dab dab dab
Ayah menghilang ditelan daun pintu
setelah digerogoti murkah
Upiak melongo disusupi sentimen penasaran
Ibu mulai mendekat
Ibu itu memang hebat
Dia menimang Upiak layaknya bayi
Memberinya kesejukan
Tapi, ibunya itu juga sadar
Upiak tidak boleh tersesat
“Upiak, jangan terlalu memakai perasaan
Pakailah logika dan iman
Ayahmu benar dan kau masi saja nanar
Pacaran dengan mereka adalah kiamat!
Upiak mendesah
Matanya mulai berbuih
Hatinya terjepit
Dia sempat berbisik
“Ayah benar, ibu benar
Tapi mungkinkah perasaan masih pudar
Mungkinkah hati masih menyimpan nanar
Mungkinkah logika tempat bersandar?
10/
Waktu itu sampai juga
Upiak dan Togar mulai resah
Kembali, di sudut kampus itu mulai mereka berdua
Tapi, atmosfernya sudah berubah
Mereka lebih banyak berdiam
Hingga malam mulai menebas
Kursi mulai lelah
Mereka tetap berdiam Menerobos batas-batas pemikiran
Saling memandang hingga mata berbuih
Hati mulai berbusa dan tersedak
Sesekali tangan mereka bergayut
Berpelukan, berciuman, berdekapan
dan mata mereka selalu basah
Mereka mencoba tersenyum
Mereka berikrar cinta akan menang
Mereka meyakinkan mereka bukan anak berdosa
Mereka memastikan semuanya akan indah
Mereka saling menyadarkan bukan anak durhaka
Mereka meneguhkan cinta akan membunuh agama
Mereka menegaskan agama adalah lembaga penyekat
Mereka mulai berfilosofi:
Togar Kristen, anak pendeta, Batak tulen
Tapi Togar tak memintanya
Demikian Upiak seorang Islam, Minang
Juga Upiak tak harapkan
Mereka mulai lagi berpelukan, masih saja hangat
Tapi, mereka hanya mampu berkata-kata
Mereka yakin semuanya akan segera sirna
Perpisahan adalah bukan pilihan
Tapi, perpisahan akan segera menjemput
Mereka saling memeluk lagi
Kali ini kata-kata ikrar makin kencang
Mata pun makin berbuih
Malam itu langit menjadi runtuh
Pundak mereka makin penat
Angin mulai mengganas
Mata mulai subur
Mulut menjadi kaku
Semuanya menjadi beku
Padahal, baru saja mereka saling berikrar
Saling menguatkan
Saling meneguhkan
Tapi, sepertinya ini adalah klimaks
Inilah malam yang akan memisahkan
Dan, Upiak berlari membawa belati
Si lelaki mengejar, tapi Upiak
lebih kuat mengunyah malam
Belati dan secarik kertas itu dia bawa sebagai bekal
11/
Malam pekat itu dia kembali
Merasa menang walau hati makin terjepit
Tapi, Upiak sadar, dia adalah santri tulen
Dia adalah penegas garis matrilinear
Dia juga sadar,
orangtuanya telah lebih dulu mencintainya
Togar hanya menyusul itu pun kebetulan
Dia menemboki bahwa Togar hanya sebatas takhayul
Hanya akan muncul kalau laku sudah tak betul
Ayahnya penuh iba memeluknya
bagai menyambut anak hilang
Ibunya membelainya
Malam itu dia merasa menang
Tapi, tubuh mulai meriang
Sebelum malam makin memekat
Upiak memandangi belati itu
Hatinya makin sekarat
Tapi dia mencoba menjadi tuli
Dia mulai membuka kertas yang mulai lusuh
Dia menjadi teringat kancingya yang berserak
Jilbabnya yang berlumpur
Roknya yang mulai tersibak
Di sana dia memandang, Togar tetap masih berdarah
Dan kala itu, malam murkah menjadi berkah
Kertas itu diusapnya pelan
Dibuka dengan hati yang mulai runtuh
Dia mulai meringis melahapnya
“Hanya jika kau memilih batu dan jarum
Aku tetap menyantap dan bertarung di kota ini
Jika kau memilih belati dan gunting
Aku akan berkelana
Menaklukkan alam-alam buas
Mengutuki lembah-lembah suram
Merusak pondasi seluruh agama
Menyehatkan kembali kebenaran cinta
Mencari arsip tiada Muhammad tanpa Allah
Mencari sabda tiada Yesus tanpa Allah berkehendak
Karena batu dan jarum ini aku akan tegar
Karena belati dan gunting ini, aku akan mengembara
Mengembara hingga kelak kau kembali
Jika pada akhirnya belati ini mulai membuatmu sadar
Aku tetap memujamu karena cinta tak pernah habis
Maka carilah aku, di lembah-lembah yang masih buas
Di gunung-gunung yang masih angker
Di hutan-hutan yang masih ngeri
Di bibir pantai yang selalu ganas
Aku menantimu!
Tapi jika kau pada akhirnya telah membenci kehadiranku
Maka, kutuklah aku
Bersedialah menjadi laut rakus dan aku korbanmu
Sudilah menjadi badai dan tumbalkan aku
Silakan menjadi nuklir dan hunjamlah tubuhku yang kerontang
Jika kau adalah sejarah, lupakanlah namaku!
Upiak makin bergetar
Disimpannya kertas itu pada sebuah rahasia
Lalu biarkan saja dia menangis lagi
Mungkin itu hanya sebentar saja
12/
Setelah belati menebas keindahan malam
Kertas menuliskan tragedi balada cinta
Togar telah pergi
Upiak yakin Togar sedang piknik
Atau Togar sedang rekreasi
Dia tahu, Togar akan segera kuliah
Dia tahu, lembah buas dan gunung ganas hanya sebuah
gombal
Tidak mungkin dia mencari arsip kitab suci
Aneh saja kalau Togar mengelilingi hutan gelap
Kemudian istirahat di bibir pantai yang serakah
Sehari, Upiak masih berkobar
Seminggu Upiak makin bergetar
Sebulan Upiak makin nanar
Setahun Upiak sudah sadar semua akan pudar
Togar tidak mungkin lagi kuliah
Akankah Upiak menjenguknya
di bibir pantai pada malam?
Pergi mencarinya di hutan yang gelap?
Mengejarnya ke lembah yang buas?
Atau merengkuhnya di ujung gunung yang ganas?
Upiak sadar, semua sudah pudar
Malam sudah selalu bercerita sunyi
Kuliah hanya omongan tragedi
Ayat Alquran hanya penambah sukma
Shalat dan adzan hanya sebuah tangis pilu
13/
Waktu masih bergulir, tapi segalanya menjadi lambat
Upiak berusaha mencari cinta
Dia selalu mendapatkan banyak pria
Tapi semuanya bagaikan batu
Selalu berkelakar, tetapi beku
Dia berencana tak menikah
Tapi itu bukan jawaban
Togar sudah tidak akan kembali
Dia mengunjungi beribu psikolog,
berdamailah dengan dirimu
Menanyai berjuta ulama, segeralah mencari imammu
Semalaman suntuk bermeditasi, temukanlah cintamu
Dia mengadu pada Alquran, Ikutilah Aku! Aku?
Cintakah maksud-Mu?
Ayat itu diam dan beku
Adalah Ridho lelaki terakhirnya
Lelaki setelah Upiak berhenti mencari lelaki
Lelaki sodoran sang orang tua yang selalu menuntun
Hingga Upiak hidup tertuntun pada hari yang selau beruntun
Ridho lelaki tulen, katakanlah dia sering mengaji
Lelaki sarjana dari Arab
Lelaki kaya yang selalu ber-Tuhan
Pernikahan akhirnya terkabar
Upiak berusaha tegar
Hari bergulir, namun makin lambat
Mereka selalu pergi bersama
Ke mall
Ke mesjid
Ke pinggir pantai
Ke pucuk gunung
Ke dasar lembah
Ke hutan asri
Upiak selalu menggelayut di sampingnya
Tapi, hari makin lambat
Semuanya menumbuhkan bosan
Ridho makin saleh
Upiak makin patuh dan taat
Semua rutinitas berjalan baik
Tapi hati selalu menjerit
Jiwanya selalu berucap kosong
Dia mematuhi suaminya, tetapi sama sekali tidak bisa
mencintainya
Segala sentuhan bahkan tak menghasilkan getar
Segala perkataan bahkan hanya sebuah rutinitas
Sebelum pada akhirnya, Ridho mulai bosan
Hari-harinya tanpa tangisan seorang bayi
Hari-harinya tanpa cemoohan seorang istri
Hari-harinya tanpa batu sandungan
untuk kelak batu loncatan
Dia rindu menimang bayi mungil bermulut kecil
Lalu dia memutuskan meminang gadis lain
“Upiak, aku membutuhkan anak
Anak adalah tujuan akhir pernikahan”
Upiak memberi izin, bahkan restu
Tidak keberatan sama sekali
Karena di usia pernikahan yang ke-13 ini,
mereka juga tak dikunjungi bayi
Tapi Upiak mulai mendengar nyaring
“Pernikahan itu bukan untuk orang tua
Bukan untuk mendapatkan anak
Tapi menyatukan cinta itu sendiri
Jadi kalau orang tua bergemuruh
Itu tak berarti cerai harus dilaksanakan
Kalau anak tak kunjung menjelma
Itu bukan isyarat mencari istri atau suami baru
Cinta itu untuk kita
Benar-benar hanya untuk menyatukan kita
Anak dan orang tua hanya bonus dari cinta
Hmmm, kata Togar ini memang sangat sejuk
Zahara, begitu gadis itu disebut
Dia seorang Betawi
Perangainya lembut, katanya halus, lakonnya sejuk,
solehah lagi
Upiak mengagumi gadis itu
Dia memberlakukannya bagaikan adik, bukan saingan
Pada bulan ke-3, Zahara melahirkan
Upiak tak juga marah
Mulutnya makin sumringah
Kata-kata orang memang mengandung murkah
Bisa-bisanya Ridho yang baik mengawini Zahara di luar nikah
Tapi, Upiak makin sumringah
Dia bahagia melihat Ridho mulai bermain dengan bayi
Ridho yang mulai melupakan Upiak
Memberlakukan Upiak sebagai tukang masak
Mengunjunginya pada saat Zahara di luar kota
Meninggalkannya manakala Zahara sedang di rumah
Upiak tetap makin sumringah
14/
Saat itu tiba juga
Zahara mulai menjadi kejam
Upiak dipandangnya rendah
Jangankan sebagai Siti Sarah10
, Upiak adalah orang terbuang
Upiak adalah orang terkutuk
Terkutuk karena mengenal Togar yang kafir
Kalau dulu, malaikat Allah
menjanjikan keindahan kepada Sarah
Upiak menjadi buronan malaikat jahanam
Dia tak kunjung melahirkan Isak,
padahal Ismail sudah besar
Zahara mulai serakah
Merayu Ridho sebagai nabi Ibrahim
Mengaku Zahara sebagai Hagar
Anaknya kelak menjadi Ismail
Zahara mendesak
Upiak harus digusur supaya Isak tidak lahir
Dan, damai akan menjadi kebenaran
Kalau saja Isak tidak lahir
Ridho mulai digerogoti kekalapan
Dia makin angkuh dengan predikat Nabi Ibrahim
Dia merasa bersalah kalau tidak menyiksa Upiak
Dia merasa berdosa kalau tidak menghina Upiak
Dia merasa terhina kalau tidak menginjak Upiak
Dan, Upiak masih sadar
Dia bukan Siti Sarah
Dia hanya seorang Upiak
Upiak yang tidak akan pernah bertemu dengan malaikat
Upiak pun sadar, Zahara bukan Hagar
Karena dia bukan budak
Dia gadis belia yang berada
Perihal Ridho, terserah dia mau Ibrahim atau tidak
Yang pasti Ibrahim itu bijaksana, tidak angkuh
15/
Entah mengapa, di usia yang mulai senja
Togar datang mencumbui pikirannya
Dia mulai tersenyum
Dia mulai merasa dunia bergoyang lagi
Burung kemarin kembali menjadi indah
Bunga kemarin juga menjadi segar
“Bapak Ibrahim, Sarah sudah gila
Dia seakan merasa bertemu dengan malaikat
Hari-harinya mulai senyum sendiri
Wajahnya mulai mekar”
Seru Zahara layaknya Hagar
Ridho yang menjadi Ibarhim mulai berang
Dia menggerutu tak mungkin Allah menghampirinya
tanpa seizin Ibrahim
Dia makin ganas
Membawa hukum cambuk dari Arab
Upiak masih sumringah walau hatinya goyah dan
tubuhnya lemah
Memang hidup adalah cambuk, Togar menyebutnya salib
Tapi dia makin yakin
Dia akan segera menjenguk Togar di bibir pantai
Mengejar Togar ke dasar lembah
Mencari Togar yang ditelan hutan
Zahara mulai habis pikir
Dia mendesak Ibrahim melakukan hukum pancung
Akhirnya, hukum pancung itu mulai menjelma
Mata ganti mata tidak lagi kejam
Mulut ganti mulut bukan lagi kesalahan
Memancung Upiak adalah sebuah berkah
16/
Upiak sadar
Hukum pancung dari Arab akan segera menyeberang
Upiak pun segera berserah layaknya martir
Tapi, udara makin bergetar
Angin mulai riang
Hujan sudah bernyanyi
Dia mulai mendebat
Hukum pancung ini harus dibatalkan
Upiak mulai terang
Dia harus membunuh atas nama cinta
Membunuh dengan belati
yang telah mengoyak malamnya
Melakonkan isi kertas titipan Togar
Akhirnya, cinta tak tercapai
membenihkan dendam buas
Malam yang ngeri itu sudah sumringah
Begitu Upiak menerjemahkannya
Ridho mulai mengendap
Melirik ke kamar Sarah
Dengan tangkas, Ridho menikam dengan barbar
Tapi darah tidak mengalir, air juga tidak memancar
Rupanya dia sedang membunuh
bekas keringat Upiak pada bantal
Bantal tempatnya mengadu
yang telah dia bungkus seperti orang kedinginan
Lalu, Upiak dari belakang membawa belati dari Togar
Ditikamnya Ridho sekali
tepat di punggung mengarah ke jantung
Upiak makin berkobar
Dia sadar Isak tidak akan lahir
Dia harus membunuh Ismail
Ismail yang mungkin menjadi angkuh tanpa Isak
Dia juga makin bergetar dan membara
Dia harus membunuh Zahara
Dia bukan budak, dia itu iblis
Malam itu
Upiak membunuh
Membunuh segala keangkuhan,
begitu dia menilai
Upiak mendadak menjadi barbar
Dia menjadi pakar vandalisme
Dia merasa tidak bersalah
Dia merasa damai
“Aku telah mengalahkan perang salib
Tidak ada kubu Ismail dan Isak lagi
Sekarang yang ada kubu cinta
Karena semua berawal dari cinta
Agama ada karena untuk cinta
Agama tidak melahirkan cinta
Agama hanya anak tiri dari cinta”
Sekali lagi, dia memeluk belati itu
Belati kekalahan yang sekarang menjadi kemenangan
Malam yang menggelegar makin berkobar
Upiak harus segera menjenguk Togar
Dia tidak sabar kalau Togar harus dicumbui fajar
Dia mulai merasa cemburu pada fajar yang akan
menjelang
Dia, akhirnya memutuskan menunda malam
Mempercepat langkah mencari Togar
Untuk nanti menikmati fajar bersama Togar
17/
Upiak sudah berubah
Pendiriannya sudah tegar
Mendadak dia mencintai ayah
Mengagumi ibunya
Ayah sampai-sampai terheran-heran
Ibu malah terkagum-kagum
Tapi kekaguman berubah
menjadi kegetiran dan kegeraman
untuk kelak menjadi permenungan
Ayah dan ibu merasa tsunami begitu dahsyat
Mendengar anaknya menjadi barbar
Tapi ayah dan ibu masih bernaluri
Disimpannya rahasia itu lekat-lekat
Mereka ingin Upiak hidup tanpa dikejar hukum
Bahkan memberi restu kalau Upiak mengunjungi Togar
Orang tua itu bahkan berikrar
Berikrar tanpa diketahui Upiak
Jika pada akhirnya kematian Ibrahim, Hagar,
dan Ismail diketahui sebagai pembunuhan
Orang tua itu bersumpah
untuk mengaku sebagai pelaku pembunuhan
Walau tidak mungkin orang tua yang sudah renta
adalah pelaku pembunuhan
Deraian air mata mulai menggenang
Tapi orang tua itu bahagia
Upiak melangkah dengan tegas
Tekadnya bulat
Hatinya tidak lagi berdebat
Niatnya sudah bulat
Dan, tubuhnya makin kuat
Dia tidak sabar untuk dipeluk Togar
tidak sabar untuk menaklukkan gunung-gunung buas
tidak sabar melewati hutan-hutan ngeri
tidak sabar menghantam lembah-lembah ganas
semua akan indah bersama Togar
mungkin mereka akan segera
mencari arsip-arsip kitab suci
Pencarian sudah dimulai
Mulai dari gunung ke lembah, singgah di hutan,
lalu istirahat di pantai
Hari sudah banyak bergulir,
Upiak belum saja melihat Togar
Di gunung lain, lembah lain, ombak baru,
pantai lain, laut lain, Togar tetap tidak ada
Upiak tidak menyerah
Tubuhnya mulai renta
Dia kemudian mengambil kertas itu
Memelototinya dengan sayang
Matanya berbuih
Hatinya bergetar
Semua menjadi indah
Dia tetap tidak sabar
Dia mulai yakin tubuhnya akan segera punah
Tapi setelah punah, Togar akan menemaninya
Di sana, di surga,
tidak ada lagi surga Kristen dan Islam
Surga itu milik bersama
Upiak berjanji
Menemui Allah
untuk menikahkan mereka
walau sedetik
Tanpa ijab Kabul
Tanpa restu orang tua
Tanpa wali
Tanpa tanda tangan pemerintah
Hanya dengan cinta
Karena Allah itu adalah cinta
18/
Lelaki itu mendekat
Bajunya sudah lusuh
Jambangnya hampir bercabang
Kumisnya beranak cucu
Baru saja dia mengutuki dasar lembah
Kemudian istirahat di puncak gunung
Matanya tertarik
Ada benda aneh
Sebelumnya benda itu tidak ada
Dilihatnya, didekati, dijamah
hatinya kembali bergetar indah
Dia terkejut
Manusia baru saja mengunjunginya
Dia baru saja teringat
Kalau dia juga adalah manusia
Dia sadar kalau dirinya adalah Togar
Togar yang selalu mengadu pada kebuasan alam
Dipeluknya lagi manusia itu
Hatinya makin bergetar
Jilbab manusia itu memang masih blepotan
Kancingnya sudah terserak
Roknya sudah lusuh
Tangannya juga masih memegang kertas
Tapi, kertas itu bukan kertas saat mengerjakan tugas
Kertas itu adalah pemberian Togar
Togar masih terkejut
Ternyata bahasa masih saja ada
Dia teringat dunia menulis, dunia membaca
Kali ini tidak ada jambret
Tidak ada perkelahian
Tidak ada hujan
Hanya ada senja yang indah
Dipeluknya gadis itu
Tak berhenti, dicium, dibelai, dipangku
Bedanya, Togar dulu masih sekarat
Sekarang Upiak sudah mengadu kepada Tuhan
Mata gadis itu masih saja indah, bahkan tampak damai
Masih dengan memeluk
Dia membaca tulisannya
Memandangi belati pemberiannya
Lalu dengan terisak bahagia membaca balasan surat
“Mungkin Bang Togar telah lelah menantiku
Aku pun menantimu, tapi tidak lelah
Setelah sehari aku masih berkobar
Seminggu aku mulai bergetar
Sebulan aku mulai nanar
Setahun aku sadar kau sudah pudar
Sekarang aku tahu bahumu masih sunyi dan suci
tempatku untuk bersandar
Aku tidak lelah, tubuhku terlalu lemah untuk cintaku
Kuputuskan saja mengadu kepada Tuhan
Kupikir, Tuhan telah memanggilmu
Bang Togar, bersedialah nanti menjadi tempatku bersandar
Kita kemudian akan bergurau
Menertawakan awan yang galak Hujan yang menangis Lalu mengejek siang yang selalu cemburu Ujung-ujungnya kita akan mencaci kata-kata kafir”
Lelaki itu tersenyum
Matanya memang mulai berbuih
Dipangkunya gadis itu
Dipeluk, lalu digendong
19/
Di ujung jalan menuju kota
Togar sudah rebah
Tubuh Upiak bahkan sudah busuk
Togar sudah merasa tidak kuat lagi
Sebenarnya rasanya dia ingin saja meminta restu
Menikah dengan mayat Upiak
Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah
Togar kembali menulis di kertas itu
Dia ingin, seseorang membacanya
Dia yakin, dia akan segera juga mengadu pada Tuhan
“Kepada ayahku seorang pendeta
Aku mengagumimu
Ibuku seorang wanita Batak Toba
Aku menyayangimu
Izinkan aku memperkenalkan menantumu yang Minang
Dia juga Islam yang kita cap keturunan teroris
Bapak, berhentilah mencintai agama
Cintailah manusia
Cintailah cinta
Kagumilah Yesus sebagai pewarta cinta
Bukan penyekat cinta
Kepada calon mertuaku yang haji,
belakangan ini menjadi ustaz
Juga seorang Minang tulen
Izinkan aku menjadi menantu
Menantu yang selalu mencintai putrimu
Berhentilah berceramah di Mesjid
Pergilah ke kolong-kolong desa dan taburkan kasih
Berhentilah mencintai agama
Mengajarkan jihad demi membela agama11
Mati karena cinta adalah abadi
Mati karena agama adalah sesat
Pak mertua, restuilah kami
Nikahkan kami
Lalu, tolong hentikan perkelahian
Tolong gusur kekerasan
Membakar gereja adalah halal,
itu salah
Membangun mesjid itu haram,
itu juga salah
Rubuhkan gereja
Hantam mesjid
Tapi kobarkanlah cinta
Bukankah Tuhan kita sama?
Alam ini luas12
Terlalu sempit untuk kita mengerti
Allah pencipta itu satu
Tidak beda Allah orang hitam
Tidak beda Allah orang putih
Begitupun Islam, Kristen,
atau orang tak beragama sekalipun
Bapakku pendeta dan mertuaku ustaz,
restuilah kami
Kubur mayat kami
tidak sesuai akidah agama13
Biarkan kami satu liang
Jangan di liang yang berbeda!
Kalau sudah pada waktunya,
kalian akan melihat kami bahagia
Ya, menikah bahagia di surga
Ternyata tubuh terlalu lemah
untuk cinta!
CATATAN
- Ustaz Abu Rusydan pernah berkata, “Saya berpesan kepada kaum muslimin, tidak ada agama yang bisa menyelamatakan umat manusia, baik didunia dan diakhirat kecuali agama Islam. Dan tidak ada aturan yang bisa mengatur dan mensejahterkan kehidupan manusia secara menyeluruh, kecuali aturan yang datangnya dari Islam. Agama Islam itu satu-satunya yang menjamin kita selamat hidup didunia dan akhirat” (Lihat http://voaislam.com/news/indonesiana/2013/02/20/23362/kenapa-harus-alergimenyebut-syariat-islam-harga-mati-sahsah-saja)
- “Andaikan kepala seseorang dicerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]
- Dalam masalah aqidah, sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT bahwa iman dan bukan iman itu ditandai dengan ikrar atas dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat ini telah menjadi kesatuan yang tidak bisa dipilahpilah. Sehingga iman dalam arti percaya bahwa Allah SWT itu ada, tapi ingkar kepada eksistensi Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya, tetap saja bukan iman, tetapi kafir. (Lihat http://pgriciampea-smp.site90.net/ BungaRampai/9/aqidah/Apakah.html)
- Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwasanya tidak sah akad nikah laki-laki saleh yang menikahi wanita nakal (pezina) kecuali setelah bertaubat. Apabila wanita itu bertaubat maka sah akad nikahnya. Begitu juga tidak sah perkawinan wanita salihah dengan laki-laki pezina kecuali setelah melakukan tau-bat yang benar karena berdasar pada firman Allah dalam akhir ayat QS An-Nur 24:3.) Lihat https://www.google.com/ search?q=tidak+perawan+menurut+agama&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org. mozilla:en-US:official&client=firefox-a
- Kekerabatan pada masyarakat Batak memiliki dua jenis, yaitu kekerabatan yang berdasarkan pada garis keturunan atau geneologis dan berdasarkan pada sosiologis. Semua suku bangsa Batak memiliki marga, inilah yang disebut dengan kekerabatan berdasarkan geneologis dan yang membawakan marga itu adalah pria. Lihat http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/942/ sistem-kekerabatan-suku-batak#.Umjr43ofldg
- Akulah (Yesus) jalan kebenaran dan hidup,…(Yoh. 14: 6)
- “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.” (QS. Al Baqarah: 282),
- Orang Samaria adalah penduduk wilayah Palestina bagian utara, yang dulunya menjadi wilayah kerajaan Israel Utara. Sejak abad ke-6 SM, ada pertentangan antara orang-orang Samaria dengan orang-orang Yahudi, yang berlangsung hingga masa Perjanjian Baru. Pertentangan tersebut terutama disebabkan alasan etnisitas, yang mana orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Samaria tidak berdarah Israel murni karena merupakan hasil pernikahan campur orang Yahudi dengan non-Yahudi Selain itu, dalam hal keagamaan juga ada perbedaan di antara keduanya sehingga orang-orang Yahudi menganggap ibadah orang-orang Samaria tidaklah benar. Lihat http:/ /id.wikipedia.org/wiki/Orang_Samaria
- Keturunan dihitung melalui garis ibu, artinya segala macam hak dan kewajiban dalam keluarga hanya diperhitungkan melalui garis keturunan ibu. Seorang suami dalam keluarga dianggap orang luar, dia tidak termasuk anggota keluarga isterinya dan tidak mempunyai hak atas harta pusaka isterinya. Lihat http://www.pandaisikek.net/index.php/artikel/artikel-islam/ adat-minang-kabau/528-sistim-kekerabatan-minangkabau
- Asalnya Hajar pembantu Siti Sarah, isteri pertama Nabi Ibrahim. Siti Hajar berkulit hitam berasal dari Qibti, Mesir, dayang hadiah daripada raja Mesir. Mulanya Siti Sarah setuju Siti Hajar berkahwin dengan Ibrahim kerana dia sendiri tidak dapat beranak. Lihat http://ms.wikipedia.org/wiki/ Siti_Hajar_isteri_Nabi_Ibrahim. Atau bandingkan dengan Genesis 16: 1 dst.
- Jihad dalam bahasa Indonesia berarti “Berusaha Keras” atau “Berjuang”. Dalam konteks Islam Jihad berarti “Berjuang menegakkan syariat Islamiah”. JIHAD juga sering diartikan sebagai “Perang Suci”. Ayat QS 2:216; QS 8:39; QS 9:29 adalah sebagian dari ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyerukan perang. Para pembela kaum Islam mengartikan bahwa tujuan dari ayat ini adalah tindakan yang harus dilakukan sampai musuh-musuh mereka memeluk agama Islam, dan akhirnya “agama Allah (Islam) menjadi penguasa tunggal! Lihat http://www.isadanislam.com/pertanyaan-sulit/ jihad-islam-atau-kasih-isa-al-masih
- Saat ini di alam semesta di perkirakan terdapat 500 miliyar galaksi yang jaraknya terpaut sangat jauh. Untuk menduga seberapa luas atau seberapa tua alam semesta kita, maka para ilmuwan menghitung dengan cara yang sederhana, yaitu mengukur jarak terjauh dari galaksi. hasilnya adalah 14 Miliyar tahun cahaya. Sederhananya jika sesorang mengendarai pesawat ruang angkasa berkeepatan cahaya maka ia baru bisa mencapai ujung semesta ini dalam waktu 14 Miliyar Tahun. Bumi adalah sebagian kecil dari galaksi bima sakti. Padahal, Galaksi Bima Sakti saja belum dapat dikuasai manusia. http://saifuddinzuhrie.blogspot.com/2012/12/mengukur-luas-alamsemesta.html






0 comments:
Post a Comment