Sunday, 20 July 2014

Membaca Arah Golkar

Membaca Arah Golkar


Oleh: Riduan Situmorang
Jika diibaratkan dengan sepak bola, politik Indonesia menganut sistem politik injury time. Dikatakan politik injury time karena peta koalisi setiap partai baru terbaca secara terang setelah mendekati detik-detik pendaftaran terakhir. Sistem injury time ini pun makin terang-benderang terbaca ketika, misalnya, salah satu partai yang dulunya bersaing dalam perebutan jabatan tiba-tiba merapat ke partai yang sebelumnya adalah lawannya hanya karena mereka kalah suara.
Dalam hal ini, Golkar mungkin bisa dikategorikan sebagai salah satu partai penganut sistem politik injury time yang mapan. Bahkan akan makin mapan lagi ketika, misalnya, partai berlambang beringin ini merapat ke Jokowi-JK hanya karena Jokowi-JK menang dari Prabowo-Hatta, misalnya.
Memang sistem politik seperti ini sangat aneh kalau tidak boleh dikatakan mencurigakan. Maaf, saya tidak sedang bermaksud memvonis Golkar sebagai partai yang mencurigakan. Hanya, jika kita liaat ke belakang, perjalanan Partai Golkar pada posisi sebagai peraih suara terbesar kedua secara nasional kelihatan canggung untuk menjual kadernya. Sudah terang, dulunya mereka yang gencar secara bulat mewakafkan ARB sebagai Capres tunggal mendadak menurun menjadi “Cawapres” ketika bertemu dengan Prabowo.
Kembali Menggalau
Pada peristiwa lainnya, Golkar malah menjalin hubungan dan berjumpa dengan Jokowi di Pasar Gembrong, Jakarta Timur. Saat itu, masyarakat sudah menduga kuat bahwa Golkar akan berlabuh pada PDI-P. Akan tetapi, sekali lagi, peta politik kita memang menganut sistem injury time. Tidak gampang ditebak, kecuali kalau kita tahu apa kepentingannya. Maka, yang kita lihat kemudian adalah bahwa Golkar berlabuh pada Koalisi Merah Putih yang walaupun jabatan sebagai capres yang dulu digadang-gadang malah melempem jauh dari target.
Jadi, kalau boleh disederhanakan, perjalanan Golkar di tangan ARB adalah mulai dari Capres, digadang-gadang menjadi Cawapres Prabowo yang lalu terjun bebas pada pemberian posisi kunci dari pasangan Prabowo-Hatta, kemudian diisukan akan merapat ke koalisi Jokowi-JK jika pada akhirnya pasangan ini yang menang.
Nah, apa yang dapat kita peroleh dari perjalanan Golkar ini benar-benar tidak ada selain peneguhan bahwa tata perpolitikan kita masih pragmatis, oportunis, plin-plan atau terlempar-lempar bagaikan pimpong. Dan, dalam konteks Partai Golkar, ini pulalah yang menegaskan bahwa semua partai, khususnya Golkar hanya berhasil menelurkan dan membesarkan kader, tetapi pada sisi lain, kader tersebut malah membesarkan partai lain. Sebut, misalnya, Wiranto dengan Hanura-nya, Surya Paloh dengan Nasdem-nya, bahkan Jusuf Kalla yang akhirnya dipinang Jokowi, serta Prabowo dengan Gerindra-nya yang malah menggunakan Golkar sebagai mesin penggerak pencalonannya.
Kini, selepas Pilpres, Golkar kembali menggalau. Mereka menggalau karena dalam perhitungan quick count, Jokowi memenangi pertarungan. Di sinilah kemudian Golkar makin galau sehingga sistem politik injury time makin terang-benderang dipentaskan. Saksikanlah, Golkar kini sedang berada pada gonjang-ganjing politik. Antara mendukung pemerintahan Jokowi atau malah mempercepat Munas. Akibatnya, mereka terkesan canggung dan tidak tahu akan melangkah kemana.
Hanya Sebuah Instrumen
Maaf, pada kesempatan ini saya tidak sedang membantu bagaimana Golkar harus berlaku. Bagaimanapun, Golkar adalah partai besar dan jika harus ditimbang dari segi umur, Golkar sudah cukup mapan, apalagi karena posisi mereka selalu berada pada lingkaran pemerintahan. Hanya saja, akan menjadi sedikit lebih bijak, setidaknya lebih aman, misalnya, jika Golkar lebih fokus pada pembenahan partai, bukan malah gencar-gencar merajut hubungan dengan koalisi Jokowi-JK. Percayalah, tindakan seperti ini akan diartikan secara berbeda oleh rakyat, yaitu bahwa Golkar adalah partai yang pragmatis dan oportunis, bahkan plin-plan seperti pingpong yang terlempar-lempar tak tentu.
Begitupun, kita syukuri perjalanan politik pingpong Golkar. Seperti kata ARB pada hampir setiap kesempatan, terutama ketika ARB dan Prabowo selesai naik kuda di kediaman Prabowo, bahwa presiden dan wakil presiden itu hanyalah sebuah instrumen. Siapa pun bisa menjadi presiden asal dia yang terbaik. Dalam hal ini, khususnya pasca-Pilpres ini, mungkin Golkar sudah memplot bahwa dari kacamata Golkar, Jokowi-JK yang terbaik karena mereka dipilih oleh dominan rakyat. Hal itu tentu paralel dengan motto Golkar, yaitu suara Golkar adalah suara rakyat.
Hanya saja, kita sedikit kelimpungan, mengapa partai, terutama partai besar sekelas Golkar masih labil untuk menentukan peta koalisi. Sebab, jika saja kita sepakat bahwa koalisi adalah wadah kerja sama untuk melayani rakyat, mengapa Golkar harus mengagendakan politik pingpong? Kecuali, kalau, misalnya, koalisi itu hanyalah trik dan strategi untuk merebut kekuasaan, di situ, partai baru perlu mengatur strategi, bila perlu mengerahkan mata-mata untuk mencari kelemahan partai lain. Akan tetapi, relevankah koalisi diartikan sedemikian buruknya? Bukankah koalisi itu adalah nama lain dari gotong royong sehingga dia tidak perlu syarat? Atau, apakah koalisi itu malah lebih cenderung pada persekongkolan para gerombolan? Jangan-jangan koalisi hanya untuk membela yang menang dan yang berkuasa sehingga dia akan buta pada koalisi terdahulu dan malah silau terhadap koalisi baru yang berhasil memenangi Pilpres?
Mari sama-sama mengartikannya di hati kita masing-masing! Yang pasti, kita harus memberi apresiasi positif kepada Golkar selama maksud mereka adalah untuk mendukung dan mengukuhkan pemerintahan yang baru, bukan malah menikmati kekuasaan dengan duduk tenang tanpa harus berkeringat. Terakhir, mari berharap semoga suara Golkar benar-benar menjadi pengejawantahan dari suara rakyat! ***
Penulis adalah Staf Pengajar Bahasa Indonesia dan Konselor Pendidikan di Prosus Inten Medan, aktif di KMK St. Martinus Unimed, aktif di KDM (Kelompok Diskusi Menulis) St. Martinus Unimed

0 comments: