Tuesday, 22 March 2016

Perkelahian Para Hantu

Hasil gambar untuk anarkisme taksi jakartaRiduan Situmorang--Perkelahian para penunggang taksi di ibu kota adalah perkelahian kenyataan dan harapan. Ini juga bentuk dari perkelahian masa sekarang, bahkan masa lalu melawan masa depan. Kalau berkenan, ini boleh pula dibilang perkelahian antara hantu melawan hantu.

Begini! Masa lalu adalah masa silam. Karena silam, boleh dibilang sudah usang, sudah remuk, sudah tak berjiwa lagi karena itu disebut hantu. Masa depan, bentuknya mulai kelihatan, tetapi tak dapat diraba, sudah bisa dibayangkan, tetapi tak bisa dipercayai utuh, sudah bisa dihitung, tetapi tak bisa dirasakan.

Bahasa ilmiah planetnya disebut harapan. Bahasa pelesetannya, karena masih belum jelas dan masih berupa harapan, ini dapat pula dibilang hantu. Jadi, perkelahian mereka di sana adalah perkelahian hantu.

Mereka berebut jiwa-jiwa kosong yang butuh pertolongan. Dulunya, mereka menakutkan karena hantunya masih terhitung. Dulunya, hantu-hantu itu juga masih bersikap sombong, bahkan jual mahal. Mereka maunya ke tempat sepi. Kalau ke Ciledug, misalnya, mereka tak mau karena di sana macet. Harga mereka pun mahal.

Bayangkan, untuk menakut-nakuti, mereka harus dibayar mahal. Di dalam tak si itu, manusia yang butuh pertolongan tadi sialnya acap dilecehkan, dirampok, bahkan kalo itu perempuan, mereka pernah juga diperkosa. Dan, untuk semua ini, pemerkosaan, perampokan, pelecehan, kita harus membayar para hantu yang manja. Sesuatu yang membingungkan.

Sekarang, atau mulai beberapa waktu yang lalu, hantu modern mulai datang. Dengan demikian, hantu tradisional punya saingan. Bukan semata punya saingan, mereka bahkan pelan-penan mulai tersingkir. Hantu itu kemudian semakin banyak. Imbasnya, kini para hantu bersikap untuk tidak lagi menakutkan. Mereka sudah coba merayu masyarakat, memberi kenyamanan, memberi kemudahan, memberi kemurahan.

Tapi, hantu tradisonal kalah ganteng. Mereka tak sanggup baik untuk selamanya, tak sanggup memberi kenyamanan selamanya, tak sanggup memberi kemudahan selamanya. Wajah mereka masih menakutkan.

Mereka memang kadang pergi ke salon sehingga wajah mereka mulai licin-licin dan enak dipandang.  Tapi, itu hanya sementara. Sebab, sehabis mandi, eh, wajahnya langsung balik menakutkan lagi. Kosmetik dari salon langsung luntur. Dan tadi, wajah menakutkan ini tak disukai oleh manusia karena itu mereka harus ke salon lagi dan ke salon lagi.

Habislah uang untuk itu. Di rumah, istri sudah menanti dengan harap tapi uang hanya dapat segitu dari kemarin ke kemarin, lalu lanjut lagi ke hari ini. Anak mulai kelaparan. Tetangga mulai menyepelekan. Malamnya, mereka coba untuk tidur. Tapi, karena tak ada uang, si istri merajuk. Mereka tidur saling membelakangi yang dulunya saling mendekap. Anak pun menangis kelaparan. Keluarga sudah tak lagi harmonis sedang masa esok tak lagi klimis.

Hantu tradisional akhirnya marah. Ini pasti gara-gara hantu modern. Maka, dihantamlah hantu modern, tetapi hantu modern balik melawan. Manusia-manusia pun banyak yang mendukung para hantu modern. Mereka tak mau lagi masuk ke dunia hantu tradisonal yang mencemaskan jika ada hantu yang menggemaskan. Perkelahian pun tersaji. Mobil dipentung. Penunggangnya dihantam. Hantu pun berkelahi. Manusia hilang tumpangan. Mau membantu, mereka ragu. Ini dunia para hantu.

Tetapi, hantu yang paling menakutkan adalah bukan hantu tradisonal dan modern. Hantu sesungguhnya adalah mereka yang membuat para hantu ini berkelahi. Mereka sudah tahu bahwa kota semakin macet, tetapi mereka mengiiznkan mobil bertumpuk-tumpuk. Mereka juga membiarkan ketidakadilan bertumbuh.

Yang satu, diberi beban pajak, beban kewajiban untuk salon atau nama lainnya KIR, sementara yang satu lagi bebas dan tanpa pajak. Hasilnya, hantu modern lebih murah dan manusia sukanya murahan, bila perlu gratisan.

Mestinya memang, hantu yang paling menakutkan itu tak pandang bulu. Bagi para hantu harus diberi keadilan. Dan, hantu tradisional pun tak usah meradang. Macam anak kecil aja. Mereka bagaimana pun sudah kalah taktik. Mereka menutup mata pada masa depan para hantu. Mereka mengaungngkan masa lalu, padahal, mereka hidup untuk masa depan.

Kalo Charles Darwin bilang, mereka ini adalah hantu yang kalah dalam evolusi. Tapi, kekalahan ini salah satunya karena hantu yang lebih menakutkan tadi tidak adil. Tetapi, penilaian ini masih belum akurat dan masih sangat dangkal.

Sebab adakah keadilan di dunia para hantu, kecuali kalau bukan wajahnya yang menakutkan? Atau, sebenarnya, jangan-jangan justru manusia-manusia yang butuh tumpangan itulah hantu sebenarnya yang membuat para hantu lain berkelahi? ASU DAHLAH! Hantu kok dibahas!
 
Riduan Situmorang
Pencinta Humor yang tak Lucu 

0 comments: