Terkait
seragam, khususnya di sekolah, kita pernah berdebat. Ada yang mengatakan bahwa
seragam meniadakan perbedaan. Ada pula yang mengatakan, jika tidak memakai
seragam, maka akan lahir kesenjangan. Sekolah pun menjadi ajang fashion. Yang kaya akan gonta-ganti
pakaian, sementara yang miskin tidak. Fokusnya menjadi penampakan.
Akan tetapi,
semua penilaian ini hanyalah mitos. Buktinya, meski baju diseragamkan,
kesenjangan masih terpelihara. Ada siswa yang diantar supir dengan mobil mewah,
ada yang jalan kaki atau naik angkot. Ada yang memakai banyak gadget, ada yang tidak sama sekali.
Kerumunan di antara mereka pun masih acap dimotivasi oleh uang. Yang kaya
berkerumun dengan orang kaya yang kemudian berakhir di pusat perbelanjaan, sementara
yang miskin berkerumun dengan orang miskin dan kemudian berakhir di jalanan.
Bukankah itu mitos?
Produk Indonesia
Seragam boleh dikatakan murni produk Indonesia.
Semangatnya mulia, seperti tadi: menghilangkan bias kesenjangan. Dulu, pada era
kolonial, murid pribumi STOVIA, sekolah bikinan Eropa, diharuskan memakai baju
tradisional masing-masing. Tidak ada seragam. Gaya pakaian orang Eropa dilarang
keras karena orang Eropa tak suka penampakannya sama dengan orang pribumi.
Mereka mesti berbeda dari segi penampakan. Artinya, eklusivisme harus terlihat
secara visual. Tradisi pemahaman inilah yang tak mau dipelihara sehingga
kemudian kita menyeragamkan pakaian siswa. Harus inklusif, begitu kira-kira!
Baju seragam ini lama kelamaan menyerempet ke
hal-hal lain. Namanya belakangan diameliroasikan menjadi dinas. Dan, dinas ini
pun pada perjalanannya penuh simbol. Adakalanya sebagai bentuk cuci otak
sederhana. Dinas pegawai kita, misalnya, pada masa Orde Baru diubah menjadi
putih hitam. Motifnya beringin. Dekat sekali ke lambang partai penguasa saat
itu. Pesan tersembunyinya adalah bahwa pegawai harus menjadi bagian atau simpatisan
dari partai penguasa.
Kini, baju seragam diatur ulang. Ada warna krem,
batik, dan putih. Yang disebut terakhir menjadi pergunjingan seksi yang meski
boleh jadi krem agak bertautan juga dengan partai penguasa. Pasalnya, mereka bercuriga
bahwa ini merupakan bagian dari bentuk cuci otak sederhana. Kita tahu, pada
masa kampanye, Jokowi memakai baju putih. Para menterinya pada masa pengumuman
di istana pun diharuskan memakai baju putih. Tujuan penyeragaman ini sesungguhnya
sangat mulia, tetapi karena suka penampakan luar, kita pun kembali kuyup
memperdebatkannya.
Ya, putih memang warna yang sangat sederhana, tetapi
filosofi di baliknya sangat kompleks. Bila ditautkan dengan sejarah kebangsaan,
ini menjadi reduplikasi gaya Soekarno yang doyan dan tampak berwibawa jika
memakai safari warna putih. Jika dikomparasikan pada masa
kolonialis, putih adalah superior. Dengan begitu, warna kulit lainnya diposisikan
sebagai yang inferior, bahkan menjadi budak, terutama mereka yang berkulit hitam.
Maka
itu, dulu sekali, orang sangat suka “memutihkan” dirinya. Dalam
kajian pasca kolonial, menjadi putih identik dengan menjadi terdominasi. Barat
yang putih mengandaikan dirinya sebagai ”yang superior” (Edward W Said, 1978)
sehingga menjadi putih berarti meletakkan dahi di bawah kaki si superior itu.
Namun,
kita memang menyukai hal demikian. Kita acap kagum terhadap apa yang dimiliki
penjajah sehingga memiliki hasrat untuk mengamuflase diri menjadi mirip
dengannya (Bhabha, 2004). Tercatat beberapa keturunan bangsa
kita menjadi pemangsa saudaranya sendiri. Sebab, penampakan seperti ini menjadi
pesan bahwa dia adalah kaum priyayi yang harus dihargai sama dengan bangsa
penjajah. Kita kemudian menyebut mereka sebagai pengkhianat.
Adakah
semangat terdominasi ini yang kembali dicuatkan sehingga kita harus memberhalakan
Jokowi, persis seperti yang dilakukan pemerintah Orde Baru, atau, seperti yang
dilakukan para “pengkhianat” kepada bangsa penjajah? Saya rasa tidak! Tetapi, desas-desus
di masyarakat sudah banyak mengarah ke sana. Apalagi negeri ini, suka sekali
menggiring opini. Berbagai pakar dikonteskan, kadang tujuannya bukan memecahkan
masalah, tetapi menggiring opini, atau, menghilangkan peristiwa lain di
baliknya.
Lebih Menyukai Sensasi
Maksud
saya, kita lebih menyukai sensasi. Penampakan luar dan kosmetika seakan menjadi
hal paling inti sehingga substansi dan esensi jauh dari perbincangan. Kita tak
tahu bahwa pegawai kita sering memberhalakan dinasnya untuk dilayani. Padahal,
yang berdinas mesti melayani masyarakat. Jokowi dengan teguh ingin
merevolusimentalkan ini melalui simbol dulu, tetapi para pengamat, masyarakat,
dan haters menganggapnya sebagai
adegan cuci otak. Berbagai spekulasi dituduhkan dengan sebebas-bebasnya.
Argumen diolah semaksimal dan semengilap mungkin, tentu saja selogis-logisnya.
Kita
menjadi menutup mata pada nasihat dari kisah Bawang Putih dan Bawang Merah.
Kita juga mengabaikan bagaimana para ulama dulunya memakai sorban putih sebagai
simbol perjuangan dan kesucian. Mengapa warna putih ini mesti dikaitkan ke
Jokowi, bukan ke sorban, ke Soekarno, ke Bawang Putih dan Bawang Merah,
misalnya? Mengapa melulu harus mengait-ngaitkannya ke masa kolonialis, ke Orde
Baru? Ini saja sudah cukup menjawab bahwa kita lebih menyukai penampakan. Kita
lebih suka memerincin sensasi, tetapi tak berani masuk ke esensi.
Rupanya,
inilah perang wacana. Berbagai argumen dibuat sebagai pemantik sensasi. Kata
kita, sebagaimana disitir Acep Iwan Saidi, berbagai tanda sengaja direka untuk membelokkan
realitas: yang rendah divisualkan tinggi, yang kotor ditampakkan bersih, yang
minimal disulap maksimal, dan seterusnya. Kita tak mau berbesar
hati bahwa ini bagian dari revolusi mental: membuat hati pegawai putih, membuat
pegawai menjadi abdi, membuat pegawai menjadi pelayan, bukan raja yang harus
dihormati setinggi-tingginya.
Memang,
seragam bukan segalanya. Tetapi, tidakkah kita mau diubah? Kalau untuk hal
remeh-temeh saja kita tak mau berubah, bagaimana untuk hal besar! Kitab Suci
berteriak begini: setia pada perkara kecil, maka akan setia pula pada perkara
besar.
Bagaimana pegawai mau
setia dan memperbaiki hatinya yang kerap dongkol, keki, dan bermental raja dari
segala raja, yang harus diberi uang pesangon supaya mau mengurusi urusan
masyarakat, tetapi ketika disuruh mengubah penampilan, mereka tak mau? Berkata
pula, penampilan bukan segalanya? Kalau bukan segalanya, mengapa mesti
susah-susah, kan, bukan segalanya? Di
mana kepatuhan kepada pemerintah? Tak usah berbicara patuh kepada masyarakat
kalau kepada pemerintah saja masih berlagak! Eh, rupanya kita masih sibuk mempergunjingkan. Saya terlupa kalau
bangsa kita memang bangsa yang bebal!
Pemerhati Danau Toba
dari PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) Medan serta Konsultan Bahasa di Prosus
Inten Medan






0 comments:
Post a Comment